Minggu, 06 April 2008

"

Hawa hitam berkumpul dihatiku
naik kemataku
Hitam ; harus hati2 sekarang
mautmu tinggal sejengkal
menjauhlah.........!

Aku menjadi Aku

Berkelana pada rimba malam
tersenyum simpul pada bulan ;
sebuah purnama dirimba malam
hiasan awan sebentuk awan

Mencecap kabut dari gunung
lembah hijau mengelam
raungan srigala jalang
menyalakan inti kehidupan

Menjadi badai
mengelana langit
menepi kepantai
menepis cita legit

Tujuh samudra bertepi tembaga
tempat singgah para pemberani
lepas angan nista
lalu menjadi sunyi

Terpisah ribuan kali pada titik mati
oh...., Betara Kali
sebarkan bumi bibit abadi
biarkan tumbuh jiwa suci

Kembali

Kuterabas ilalang di padang
memahat jejak pada angin
mengalun ;
mengejar ujung langkah

Aku ingin berpaling
pada riang kutilang
didahan rindang
berpeluk irama dundang

senjakala merah diujung ufuk
menyampaikan alamat pada nurani
bahwa senja sudah datang
kembali saja pada rentang langkah

Dua wajah tersenyum

Dua wajah muram
tersenyum padaku
mengabarkan masa depan
negeri yang gemilang

Makmur
sementara minyak tanah
susah didapat

Rindang
sementara hutan
meranggas redam

Riang
sementara anak negri
dijual keluar negri

Subur
sementara petani
susah memanen
ladangnya sudah terbeli

Dua wajah muram
tersenyum tipu tipu
bilang petani yang salah
hutan akan tumbuh
anak negri akan kembali

Sementara parade tikus
meringis tersenyum
sambil kentut
lalu menari lagu nostalgia

Kerbau
tak lagi kuat menarik bajak
rumput dikorupsi

Mari kita angkat pedang !!!
acungkan kelangit !!!
rebut kuasa salah atas negri ini ....,