“ Saat senja perlahan mendekati/Mereka duduk di ruangan/televisi gantikan dongengan/
tidak pernah tau masa lalu ” (lagu : na,... na,.. na,.., Swami)
“ Gambar iklan jadi impian/akal sehat malah dikeluhkan ” (lagu : nocturno, Swami)
Seorang anak, kelas tiga SD, tetangga sebelah rumahku bercerita, tadi malam dia menonton reality show siaran sebuah stasiun tv swasta. Ceritanya tentang hantu, dan orang-orang yang di santet dan sebagainya. Selanjutnya reality show itu akan saya sebut saja, Udelgemblung, sebenarnya saya ingin istilahnya lebih kasar lagi, misalnya Kancut Setan, tapi jangan, itu cukup.
Baginya Udelgemblung adalah sebuah tayangan yang nyata. Sebagai mana diketahuinya dari orang-orang di sekitarnya termasuk orang tuanya, yang percaya tayangan Udelgemblung itu adalah kisah nyata. Tidak hanya dia orang-orang yang lebih dewasa di sekitar saya dengan semangat ketika mengobrol di pos kamling terkadang bercerita tentang si Udelgemblung ini.
Bahkan rekan sekerja, yang semuanya adalah orang berpredikat minimal Diploma 3, dengan muka khusu menyempatkan menonton tayangan ini. Parahnya mereka percaya dan menjadikannya bahan diskusi yang hangat. Berusaha membandingkan dengan kejadian di sekitar mereka, bertambah parah lagi tanpa usaha untuk introspeksi diri.
Kata-kata yang biasanya kuucapkan ketika nimbrung menonton “ Benar nggak sih begitu?”. Diartikan sebagai ancaman oleh mereka. Ancaman terhadap keyakinan mereka akan kebenaran cerita tersebut.
Apakah benar nyata, Reality seperti judulnya, atau justru lebih membodohi dari yang secara terang-terangan mengaku fiktif, seperti sinetron ; “ cerita ini hanya fiktif belaka kalau ada kesamaan nama dan tempat maka itu adalah kebetulan belaka ”?
Seandainya tayangan ini benar se-real yang diklaimnya, maka tetap tidak elok ketika di tayangkan pada jam yang disebut Prime time oleh televisi itu. Mengingat kemampuan untuk memfilter cerita sejenis ini masih sangat jauh panggang dari api bagi sebagian besar penonton pada jam tersebut.
Sepakat dengan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), yang mengeluhkan tayangan Infotainment yang sudah melanggar batas-batas jurnalistik hingga tidak lagi bisa disebut dengan karya jurnalisme. Maka tayangan Udelgemblung ini pun seharusnya menjadi perhatian.
Begitu banyak sekarang tayangan Udelgemblung sejenis yang mengeksploitasi berbagai hal, kisruh rumah tangga, cerita misteri yang di dapat dari ujar dan katanya. Cerita yang dilebihi lebihkan dan tidak senyata yang di klaimnya. Kemudian berusaha di-nyata-kan dengan pemain pemain drama yang aktingnya lebih parah dari seekor kucing, seandainya kucing boleh berakting di televisi.
Ketika logika bisnis media dimasukkan dalam perdebatan ini, maka keluh kesah ini mutlak salah. Kenapa harus membatasi dan meragukan kemampuan penonton? Alasan bahwa “kami punya segmen yang di sasar”. Menjadi mutlak dan tak terbantahkan.
Kemudian jika ditanyakan pada saya, apa seharusnya yang ditayangkan oleh televisi yang mendidik tapi tetap mempunyai nilai jual? Maka saya dengan sangat malu harus mengatakan, saya tidak tahu. Saya tidak di didik dan berpengalaman mengenai hal itu. Tugas saya sekarang adalah menjaga moral dan etika murid-murid saya yang semuanya masih remaja, sebagai seorang Guru.
Kesulitan itu harus ditambah lagi dengan menjelaskan semua kebohongan bisnis media. Yang mereka pelototi lebih lama dari waktu belajar mereka di sekolah. Sebagian besar tanpa bimbingan dari orang tua mereka. Dalam pembicaraan santai antara guru dan murid, salah seorang dari mereka pernah berkata “ Tapi di TV itu kan........ Pa’? ” beughhhh......!?
Kepada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), kalau ini memang tugas anda, pertanyakanlah kebenaran semua tayangan Udelgemblung itu, atau kalau bukan tolong diperhatikan dan tugaskan kepada yang seharusnya. Tolong tegur mereka, seandainya melarang tidak bisa.
Kepada media saya minta tolong, kasihani kami. Jangan jadikan korban dari apa yang kau sebut bisnis itu. Ampunnnn pemerentah.......!!!!
Ada pepatah yang mengatakan : “Ini jaman edan, kalau tidak ikut edan tidak kebagian”, tidak sepakat ! Bagiku : Ini zaman edan, kalau ikut ikutan edan, mending mati saja.
Kepada yang bersedia membaca keluh kesah ini, mohon saran dan petunjuknya.
Selasa, 03 Agustus 2010
Atlantis, the lost Continent Finally Foud Dan, Wow....??? itu di Indonesia ???
.jpg)
“Misteri dunia yang sebenarnya adalah apa yang terlihat, bukan apa yang tidak terlihat”. (Oscar Wilde, dari : Atlantis the last continent finally found)
Sudah lebih dari sebulan sejak menyelesaikan membaca buku ini, pertanyaan yang dihasilkannnya masih bergaung di dalam kepala. Benarkah..? Indonesia adalah tempat lahirnya peradaban dunia yang bernama Atlantis, pada Zaman Es awal (Kala Pleistosen).
Buku ini menohok semua pengetahuanku yang ada sekarang, bahkan agama. Dan tohokan itulah yang terasa menggelisahkan sampai sekarang, terutama soal agama. Sedikit marah pada Prof. Arysio Santos, Geolog dan Fisikawan Nuklir dari negeri yang berhasil memiliki secara tetap piala dunia dunia pertama dan menghasilkan pemain bola hebat lebih banyak dari negeri manapun dunia ini, Brazil.
Tapi kemarahanku sia-sia saja, sebab tidak mampu untuk “membantah”. Bagaimana tidak, buku ini adalah hasil dari 30 tahun penelitian ilmiah melintasi hampir seluruh disiplin ilmu. Tentunya juga dengan keterbatasan pengetahuan yang aku miliki. Singkatnya, sudah kalah start, dan tentu saja sampai sekarang, aku belum juga start, kalau mau (dan sebenarnya tidak bisa) membandingkan diri dengan si Prof. Arysio.
Sekarang dengan bisikan Sound of Silent-nya Simon & Ganrfukel di dapur rumah, Prof. Arysio Santos berkata “ Di sini, kami membuktikan Identitas Eden sebagai Atlantis serta menunjukkan lokasi sesungguhnya di Taprobane (indonesia). Di sana, kami menemukan bekas bekas keberadaan sebuah benua besar yang kini terbenam di bawah laut, yang sekarang disebut dengan Laut Jawa dan Laut Cina Selatan. Dan, kami juga menemukan bahwa benua yang sekarang tenggelam ini merupakan sumber peradaban yang sebenarnya, dimanapun budaya bercocok tanam dan temuan sejenis mendasar diciptakan sejak dahulu kala”. Dan hancur ketika zaman Pleistosen (zaman es) berakhir.
Itu mengejutkan bagi saya, karena diyakini selama ini, Indonesia memasuki jaman yang disebut sejarah, baru pada abad ke 5 Masehi, ketika prasasti Yupa di Kutai Kartanegara di tulis. Sementara sejak jaman ketika manusia diyakini bermigrasi keberbagai benua, Pleistosen awal, manusia Indonesia masih mengembangkan ciri khas ras-nya. Bukan sebuah peradaban yang sangat maju.
Peradaban pulau Kreta-minoa, yang diyakini sebagai salah satu peradaban tertua yang ditemukan, adalah keberlangsungan berikutnya dari peradaban Atlantis yang dihancurkan oleh dua pilar Herkules-nya, yang diyakini sang profesor sebagai gunung Krakatau dan Toba. Tentunya ledakan Krakatau yang jauh lebih awal dan lebih besar dari ledakan yang sekarang bisa kita bayangkan.
Bangsa kulit putih juga berasal dari daratan yang bernama atlantis ini. Karena mereka kemudian bermigrasi ke pulau-pulau dan benua lainnya. Dan sampai di Eropa pada era yang tidak disebutkannya.
Menurut Prof. Arysio, semua kebudayaan besar berhubungan. Dari Eropa, Amerika dan Asia. Semua mempunyai ide yang sama tentang kebudayaan dan asal usul budaya mereka. Hanya istilah bahasa dan pola linguistik saja yang membedakannya. Ide utama dan awal kebudayaannya sama.
Argumen utama teorinya adalah, ketika es masih meliputi seluruh permukaan bumi, maka daerah yang paling masuk akal untuk dikatakan tropis adalah daerah yang paling dekat dengan Khatulistiwa yaitu Benua Atlantis (Indonesia). Dengan kesuburan wilayahnya, maka Benua Atlantis memenuhi syarat untuk bisa berkembangnya sebuah kebudayaan yang maju. Dan karena perang dan keserakahan, seperti kata Plato, mereka runtuh.
Dengan 673 halaman buku ini, begitu banyak argumen yang harus dicerna. Plato yang menjadi pemicu utama perdebatan Atlantis, tidak pernah menggambarkan secara tepat di mana tempat yang disebutnya dengan Benua Yang Hilang tersebut, tempat Kebudayaan dimulai. Setidaknya kebudayaan yang kita kenal sekarang. Perdebatannya mengarah pada, apakah Atlantis nyata atau hanya Science Fiksi-nya Plato. Dan Prof. Arysio adalah orang yang yakin Atlantis itu ada.
Indonesia, berupa ratusan suku bangsa yang mendiami tempat ini sekarang. Tidak disinggung banyak dalam buku ini kecuali sedikit tentang burung Garuda yang sekarang menjadi lambang negara kita.
Kalau dengan argumen Prof. Arysio bahwa kebudayaan yang ada sekarang tidak mungkin berkembang tanpa adanya pengetahuan yang lebih terdahulu, yang diyakini-nya dengan Atlantis. Maka kemudian, kebudayaan apa yang membuat Atlantis bisa semaju seperti yang di katakan Plato. Adakah juga kebudayaan sebelum Atlantis....... ?
Mohon petunjuk, tentang semuanya, bagi yang bersedia membaca keluh kesah ini.
Dari pojok meja makan,
Marabahan, 1 Agustus 2010
Rabu, 28 Juli 2010
lapor pa
lapor pa..
ya..
Ada banjir karena hutan gundul
dua tewas
wow itu tragis!!
ada busung lapar pa di daerah
wah... itu ironi
Lapor lagi pa...
Jalan negara rusak parah pa..
karena truk perusahaan,
petani merugi pa, kalah bersaing dengan kedelai import,
panen busuk tidak terangkut, gedung sekolah banyak rusak parah
Mmm... Itu menyedihkan
tanya pa..
Silaken..
Akhir pekan kemana pa?
paris...., ibu mau beli gaun buat makan malam di istana..
wow... wah... mmm... itu tragis ironi dan menyedihkan..... ????!!!!
ya..
Ada banjir karena hutan gundul
dua tewas
wow itu tragis!!
ada busung lapar pa di daerah
wah... itu ironi
Lapor lagi pa...
Jalan negara rusak parah pa..
karena truk perusahaan,
petani merugi pa, kalah bersaing dengan kedelai import,
panen busuk tidak terangkut, gedung sekolah banyak rusak parah
Mmm... Itu menyedihkan
tanya pa..
Silaken..
Akhir pekan kemana pa?
paris...., ibu mau beli gaun buat makan malam di istana..
wow... wah... mmm... itu tragis ironi dan menyedihkan..... ????!!!!
Minggu, 29 November 2009
Belok kanan Amsterdam, kiri Tanggul Rejo
Syawal kaget ketika aku tiba-tiba tertawa terbahak setelah Ia belok kiri. Aku merasa sangat lucu dengan plang di atas jalan yang kami lewati. Belok kanan Amsterdam, London, Paris. Belok kiri Tanggul rejo . “ Seperti negeri ini Wal, paradoks ”
Ini kisah ketika aku mengadakan perjalanan dari Marabahan ke Bontang, Kalimantan Timur, dengan Joly Jumper, motor Honda Astrea Grand tahun ’97, yang namanya mencaplok dari motor sejenis milik temanku Daud, terinspirasi dari kuda milik penembak wild wild west yang lebih cepat dari bayangan, Lucky Luck.
Dengan modal duit seadanya plus sedikit kenekatan, jalan sepanjang 700 km menunggu. Tidak ada tujuan khusus, just for fun.
Alkisah, semua ini diawali dari kebosanan karena masa liburan mengajar selama bulan Ramadhan 1430 H, yang artinya sebulan penuh, lebih malah. Setelah seminggu libur, tiba-tiba saja meledak keinginan di kepalaku untuk pergi jalan-jalan, daripada mati bosan. Ke Bontang mendatangi Robby, karibku di Marabahan yang kini tinggal di sana. Yang menunda keberangkatanku, hingga terasa makin panjang hari-hari, adalah soal uang, gajian masih empat hari lagi mangg........!!
Jadilah, tepat sehari setelah gajian, sesudah ganti oli dan menyervis Joly, lonely journey is began. Pagi jam tujuh, berangkat dengan ransel terikat di boncengan, dan sebuah senapang angin rusak, titipan Robby.
Tidak ada yang spektakuler dari kisah perjalanan ini. Semuanya berjalan lancar. Melewati jalan tanah yang baru dibangun dari Marabahan langsung memotong ke Rantau, hingga bisa menyingkat waktu sampai tiga jam, jika melewati Banjarmasin. Istirahat sembahyang zohor di kota Rantau.
Jam empat sore aku sudah memasuki perbatasan Kalsel-Kaltim. Setelah Joly gemetaran mendaki Gunung Rambutan, berbuka puasa di mesjid Desa Long Lait. Jam sembilan malam, di penyeberangan Fery Panajam, menelpon Syawal. Memasuki kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kurang lebih jam sepuluh malam aku sudah di rumah Syawal, karibku di Mapala, semasa kuliah. Spidometer Joly menunjukkan 500 km sudah terlalui.
Mendengar rencanaku langsung melanjutkan ke Bontang esok pagi, malam itu Syawal mengajak aku jalan-jalan, mengenalkan Balikpapan. Dimulai dari sebuah taman di pusat kota. Kami duduk di cafe tenda menghabiskan dua cangkir capuccino instan. Membakar berbatang-batang rokok. Sambil mengomentari gadis-gadis dengan model termutakhir yang sedang nongkrong bersama gengnya, ribut membicarakan entah apa.
Kata Syawal, mereka ada disini sih karena diskotik lagi tutup, selama bulan puasa. Katanya lagi, mungkin ada tuh yang bispak (bisa pakai)..., ajippp bener dah...., mau....?
Lalu kami berputar kota, kaya walaupun kecil, kalo dibanding Banjarmasin. Dengan mall, hotel, dan apartemen yang sewanya mencapai ratusan juta. Maklum, kota minyak.
Memasuki sebuah komplek pasar, adalah memasuki nuansa Eropah abad pertengahan. Dimulai dari gerbang, kemudian bangunan toko, taman dan jalan yang didesain dengan nuansa eropah, macam kastil pangeran di film kartun Rafunzel.
Pun nama blok yang digunakan, blok paris, amsterdam, london, dst. Pertanyaanku, mana yang nuansa kaltim-nya, dijawab syawal dengan singkat, “ kadada. ” weleh...... sambil terkagum-kagum karena mereka mampu membangun ini.
Di ujung Blok, Syawal kaget ketika aku tiba-tiba tertawa terbahak setelah Ia belok kiri. Aku merasa sangat lucu dengan plang di atas jalan yang kami lewati. Belok kanan Amsterdam, London, Paris, dst. Belok kiri Tanggul rejo . “ Seperti negeri ini Wal, paradoks. ”
Aku langsung ingat ketika zaman kuliah, waktu KBU diundang oleh BP7 di aula walikota Banjarmasin. Aku datang mewakili bersama Barak. Dengan sandal jepit beda warna, jeans butut potongan jadul yang sudah dua minggu tidak dicuci, baju hem outdoor yang nasipnya sama, dan rambut keriting gondrong yang tidak jelas menganut gaya apa.
Isinya ternyata ceramah tentang Pancasila, sebagai dasar yang paling tepat untuk negeri ini. Karena pancasila sudah mencakup semuanya. Baik moral, hukum dan agama, tinggal mengamalkan saja.
Tokoh masyarakat yang lain, waktu itu ada banyak ketua RT, tokoh agama, dan beberapa tetua, menanggapi dengan pengamalan yang salah lah, kurang mengerti agama lah sehingga bangsa ini carut marut dan diturunkan azab, kebetulan waktu itu setelah kejadian tsunami Aceh. Sampai seorang kawan dari BEM Hukum menanggapi dengan Pancasila yang diplesetkan. Mendengar itu, kepala BP7, saya lupa namanya, nampak marah ketika menanggapi.
Entah kebetulan atau tidak, saya menanggapi pembicaraan itu sebagai penutup. Saya katakan bahwa agama atau idiologi apapun untuk bangsa ini bukan soal, asalkan pemimpinnya bisa menunjukkan empati pada rakyatnya. Soal pancasila yang diplesetkan, hanya bentuk pelampiasan kekecewaan atas keadaan yang saling bertolak belakang antara pemimpin dan rakyat, jadi bapak tidak perlu marah soal itu.
Ketika rakyat di suruh hemat energi, mesin mobil pa atasan tidak pernah mati kalo menunggu bos, takut mobilnya jadi panas kalo dimatikan mesinnya, karena AC ngga bisa nyala. Dan masih banyak contoh lain yang menggambarkan itu. Bla bla bla masih banyak lagi saya bicara, lupa detilnya.....
Setelah selesai, kepala BP7 itu langsung mendatangi saya yang duduk di paling sudut ruangan, menyalami sampai tangan saya terasa sakit. Memandang saya dengan tajam, entah dia bicara apa, lupa. Saya sampai merasa tubuh saya mengkeret, sambil berdoa, mudahan saya jangan jadi korban penculikan, wkwkwkwkwkw, gayyyaaaa....!!!
Kenapa kamu ketawa, tanya syawal, bukankah itu harusnya menyedihkan. Entahlah brow..., mungkin otakku mengandung penyakit apatis dan sinis yang mulai akut.
Begitulah pikiranku waktu itu, mungkin bangsa ini sedang berkembang melompati satu tahap langsung menuju keruntuhan, bukan kemajuan, seperti seharusnya. Di tengah kota yang seharusnya keliatan jiwa kaltimnya, malah berasa sedang jalan-jalan di Eropah, walaupun rasanya asyem. Budaya asli berada di dimpang kiri yang jarang dipilih. ( Syawal dan semua orang Balikpapan kalo kebetulan baca, jangan marah ya... kota kalian hebat kog, ini hanya pikiran orang kurang kerjaan aja... hehe.... )
Itu sudah semuanya, besoknya, setelah berangkat jam sembilan siang, melewati Samarinda tengah hari, jam tiga sore aku memasuki kota Bontang. Setelah membakar 12 liter bensin, here I am, in Bontang. Kotanya PT Badak Ngl dan Pupuk Kaltim. Spidometer menunjukkan 700 km sekarang.
Joly Jumper memang luar biasa. Walau cuma 100 cc, bolak balik Marabahan-Bontang, 1400 km, dengan 24 liter bensin, melewati jalan turun naik dan berliku tanpa rewel sedikitpun. Cheerssssssss.......!
Ini kisah ketika aku mengadakan perjalanan dari Marabahan ke Bontang, Kalimantan Timur, dengan Joly Jumper, motor Honda Astrea Grand tahun ’97, yang namanya mencaplok dari motor sejenis milik temanku Daud, terinspirasi dari kuda milik penembak wild wild west yang lebih cepat dari bayangan, Lucky Luck.
Dengan modal duit seadanya plus sedikit kenekatan, jalan sepanjang 700 km menunggu. Tidak ada tujuan khusus, just for fun.
Alkisah, semua ini diawali dari kebosanan karena masa liburan mengajar selama bulan Ramadhan 1430 H, yang artinya sebulan penuh, lebih malah. Setelah seminggu libur, tiba-tiba saja meledak keinginan di kepalaku untuk pergi jalan-jalan, daripada mati bosan. Ke Bontang mendatangi Robby, karibku di Marabahan yang kini tinggal di sana. Yang menunda keberangkatanku, hingga terasa makin panjang hari-hari, adalah soal uang, gajian masih empat hari lagi mangg........!!
Jadilah, tepat sehari setelah gajian, sesudah ganti oli dan menyervis Joly, lonely journey is began. Pagi jam tujuh, berangkat dengan ransel terikat di boncengan, dan sebuah senapang angin rusak, titipan Robby.
Tidak ada yang spektakuler dari kisah perjalanan ini. Semuanya berjalan lancar. Melewati jalan tanah yang baru dibangun dari Marabahan langsung memotong ke Rantau, hingga bisa menyingkat waktu sampai tiga jam, jika melewati Banjarmasin. Istirahat sembahyang zohor di kota Rantau.
Jam empat sore aku sudah memasuki perbatasan Kalsel-Kaltim. Setelah Joly gemetaran mendaki Gunung Rambutan, berbuka puasa di mesjid Desa Long Lait. Jam sembilan malam, di penyeberangan Fery Panajam, menelpon Syawal. Memasuki kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kurang lebih jam sepuluh malam aku sudah di rumah Syawal, karibku di Mapala, semasa kuliah. Spidometer Joly menunjukkan 500 km sudah terlalui.
Mendengar rencanaku langsung melanjutkan ke Bontang esok pagi, malam itu Syawal mengajak aku jalan-jalan, mengenalkan Balikpapan. Dimulai dari sebuah taman di pusat kota. Kami duduk di cafe tenda menghabiskan dua cangkir capuccino instan. Membakar berbatang-batang rokok. Sambil mengomentari gadis-gadis dengan model termutakhir yang sedang nongkrong bersama gengnya, ribut membicarakan entah apa.
Kata Syawal, mereka ada disini sih karena diskotik lagi tutup, selama bulan puasa. Katanya lagi, mungkin ada tuh yang bispak (bisa pakai)..., ajippp bener dah...., mau....?
Lalu kami berputar kota, kaya walaupun kecil, kalo dibanding Banjarmasin. Dengan mall, hotel, dan apartemen yang sewanya mencapai ratusan juta. Maklum, kota minyak.
Memasuki sebuah komplek pasar, adalah memasuki nuansa Eropah abad pertengahan. Dimulai dari gerbang, kemudian bangunan toko, taman dan jalan yang didesain dengan nuansa eropah, macam kastil pangeran di film kartun Rafunzel.
Pun nama blok yang digunakan, blok paris, amsterdam, london, dst. Pertanyaanku, mana yang nuansa kaltim-nya, dijawab syawal dengan singkat, “ kadada. ” weleh...... sambil terkagum-kagum karena mereka mampu membangun ini.
Di ujung Blok, Syawal kaget ketika aku tiba-tiba tertawa terbahak setelah Ia belok kiri. Aku merasa sangat lucu dengan plang di atas jalan yang kami lewati. Belok kanan Amsterdam, London, Paris, dst. Belok kiri Tanggul rejo . “ Seperti negeri ini Wal, paradoks. ”
Aku langsung ingat ketika zaman kuliah, waktu KBU diundang oleh BP7 di aula walikota Banjarmasin. Aku datang mewakili bersama Barak. Dengan sandal jepit beda warna, jeans butut potongan jadul yang sudah dua minggu tidak dicuci, baju hem outdoor yang nasipnya sama, dan rambut keriting gondrong yang tidak jelas menganut gaya apa.
Isinya ternyata ceramah tentang Pancasila, sebagai dasar yang paling tepat untuk negeri ini. Karena pancasila sudah mencakup semuanya. Baik moral, hukum dan agama, tinggal mengamalkan saja.
Tokoh masyarakat yang lain, waktu itu ada banyak ketua RT, tokoh agama, dan beberapa tetua, menanggapi dengan pengamalan yang salah lah, kurang mengerti agama lah sehingga bangsa ini carut marut dan diturunkan azab, kebetulan waktu itu setelah kejadian tsunami Aceh. Sampai seorang kawan dari BEM Hukum menanggapi dengan Pancasila yang diplesetkan. Mendengar itu, kepala BP7, saya lupa namanya, nampak marah ketika menanggapi.
Entah kebetulan atau tidak, saya menanggapi pembicaraan itu sebagai penutup. Saya katakan bahwa agama atau idiologi apapun untuk bangsa ini bukan soal, asalkan pemimpinnya bisa menunjukkan empati pada rakyatnya. Soal pancasila yang diplesetkan, hanya bentuk pelampiasan kekecewaan atas keadaan yang saling bertolak belakang antara pemimpin dan rakyat, jadi bapak tidak perlu marah soal itu.
Ketika rakyat di suruh hemat energi, mesin mobil pa atasan tidak pernah mati kalo menunggu bos, takut mobilnya jadi panas kalo dimatikan mesinnya, karena AC ngga bisa nyala. Dan masih banyak contoh lain yang menggambarkan itu. Bla bla bla masih banyak lagi saya bicara, lupa detilnya.....
Setelah selesai, kepala BP7 itu langsung mendatangi saya yang duduk di paling sudut ruangan, menyalami sampai tangan saya terasa sakit. Memandang saya dengan tajam, entah dia bicara apa, lupa. Saya sampai merasa tubuh saya mengkeret, sambil berdoa, mudahan saya jangan jadi korban penculikan, wkwkwkwkwkw, gayyyaaaa....!!!
Kenapa kamu ketawa, tanya syawal, bukankah itu harusnya menyedihkan. Entahlah brow..., mungkin otakku mengandung penyakit apatis dan sinis yang mulai akut.
Begitulah pikiranku waktu itu, mungkin bangsa ini sedang berkembang melompati satu tahap langsung menuju keruntuhan, bukan kemajuan, seperti seharusnya. Di tengah kota yang seharusnya keliatan jiwa kaltimnya, malah berasa sedang jalan-jalan di Eropah, walaupun rasanya asyem. Budaya asli berada di dimpang kiri yang jarang dipilih. ( Syawal dan semua orang Balikpapan kalo kebetulan baca, jangan marah ya... kota kalian hebat kog, ini hanya pikiran orang kurang kerjaan aja... hehe.... )
Itu sudah semuanya, besoknya, setelah berangkat jam sembilan siang, melewati Samarinda tengah hari, jam tiga sore aku memasuki kota Bontang. Setelah membakar 12 liter bensin, here I am, in Bontang. Kotanya PT Badak Ngl dan Pupuk Kaltim. Spidometer menunjukkan 700 km sekarang.
Joly Jumper memang luar biasa. Walau cuma 100 cc, bolak balik Marabahan-Bontang, 1400 km, dengan 24 liter bensin, melewati jalan turun naik dan berliku tanpa rewel sedikitpun. Cheerssssssss.......!
Langganan:
Postingan (Atom)