Hei ! temanku yang baik, datang.... dan duduklah disini, aku ingin berbagi cerita denganmu. Aku juga ingin sedikit bicara padamu tentang hatiku, atau apa saja yang ingin kau tau, itupun kalau kau mau tahu. Duduklah, ya..duduklah. Apakah kau keberatan jika aku menawarkan sebatang rokok sembari kita berbincang? Baiklah.........,untuk menghalau ke kekakuan ini biarlah aku menceritakan tentang diriku.
Aku, orang yang hidup dalam bayangan, aku suka hidup dalam bayangan. Apalagi ketika malam telah datang, sebuah bayangan yang sempurna dengan kegelapan yang sempurna pula, Aku akan bersorak kegirangan, Aku merasa aman berada dalam bayangan, perasaanku menjadi nyaman dan sendu, seperti ketika kau memeluk kekasihmu. Kau tidak punya kekasih! Aah.....aku rasa tidak mungkin orang seperti kau tidak punya kekasih, tapi..........maaf kalau aku meragukanmu. Carilah, nanti kau akan mengerti perasaan yang ku maksud. Kau tahu temanku, kuanggap saja kau temanku, ketika matahari telah terbit Aku akan selalu berusaha berada dalam bayangan, bayangan apapun yang bisa kutemukan. Berlindung pada sesuatu yang bahkan kadang tidak ia sadari memilikinya, aku hanya meminta yang bahkan dia tidak akan merasa kehilangan.
Aku, tidak mampu memberi bayangan, karena aku bahkan tidak yakin kalau aku ada, ditambah lagi, logis saja bagaimana mungkin sesuatu yang ada dalam bayangan memberikan bayangan. Aku bahkan tidak yakin apakan entitasku ada dalam mayapada ini. Kalaupu aku ada mungkin bentukku transparant, karena aku bahkan takut untuk memberi warna hidupku, itupun kalau aku bisa disebut hidup.
Ahh....ya! aku lupa memperkenalkan diriku. Aku, Ina, begitulah orang menyebutku, sebagaimana aku menyebut namaku dalam kehampaan. Aku, seorang wanita yang terpenjara didalam raga maskulin seorang laki-laki. Jiwa dan ragaku saling membenci, mereka saling menyesali kebersatuannya, walapun mereka terus hidup bersama untuk mencari kesempurnaan. Kadang kudengar ragaku mencaci, kenapa ia diberi jiwa seperti jiwaku, ia sangat ingin jiwaku pergi, tapi tidak bisa. Begitupun dengan jiwaku, ia memaki ragaku dengan segala kata kotor yang ada dalam dunia ini, dan menyesali kenapa raga memenjarakannya, yang ada hanya penyesalan dan penderitaan yang harus tertanggung. Jiwaku ingin berpisah dari ragaku, tapi tidak bisa! Karena kami takut mati, itupun kalau aku benar hidup, karena aku tidak merasa hidup dengan pertengkaran mereka.
Ah..ya, Aku ingin kembali bercerita tentang kecintaanku pada bayangan. Pernah dulu, dulu sekali, sebelum aku hidup, aku berlindung pada sebuah bayangan, dia sebenarnya kecil saja tapi karena posisi cahaya yang tepat, dia menghasilkan bayangan yang besar, 350 tahun aku menghamba padanya, dia memerasku, mengambil semua yang kumiliki, yang tidak kusadari kumiliki, menghinaku dengan segala kehinaan yang ada didunia ini, sampai akhirnya hanya hutang yang ia tinggalkan setelah ia pergi. Kemudian cahaya lain terbit dari ufuk timur, aku berlari dan mencari perlindungan yang baru. Dalam beberapa kesempatan aku berusaha menatap sendiri matahariku, tapi tidak! aku tidak bisa! karena raga jantanku tidak bisa memahami jiwa wanitaku, akhirnya aku kembali mencari bayangan lain, lari dari matahari yang kutakuti.
Aku bukan banci, aku tidak tahu apa arti kata banci, karena dalam kitab suciku tidak kutemukan mahluk bernama Banci, Aku hanya raga laki-laki dan jiwa wanita, aku hanya itu. “Itu” yang kusadari bersama ketika kata orang aku ini hidup, karena aku tidak merasa hidup dengan pertengkaran jiwa dan ragaku. Apa artinya hidup, jika hanya menunggu mati, moksa, pindah alam, bertemu roh suci, atau apalah! aku ingin hidup, hanya hidup! aaah....? apa itu tadi? Sepertinya jiwaku dan ragaku bertengkar lagi. Aku juga tidak tau apa sebenarnya yang mereka inginkan. Mengapa mereka harus menjadi dua entitas yang berbeda, mereka kan berada dalam satu tubuh, tubuhku!! Ooh ya..ampuun! Hentikan!!! sekarang akupun tampaknya ikut dalam pertengkaran mereka, ya....ampuuun? Inikah hidup?
Maaf, aku jadi melibatkanmu dalam hidupku. Padahal aku hanya ingin bercerita tentang kecintaanku pada bayangan. Kau tau...?, sekarang ini, ketika aku duduk bersamamu sambil menceritakan kecintaanku pada bayangan, kita sebenarnya sedang duduk dalam bayangan, bayangan yang sempurna, tidak terlihat sedikitpun cacat padanya, bahkan setitik cahaya. Kau tau...., aku tidak ingin kau merusaknya, aku hanya ingin kau mendengarkan, dan aku juga tidak perduli apakah kau juga akan bisa mengenali wajahku, karena aku hanya ingin kau mendengarkan, hanya untuk membuat aku merasa lebih nyaman menikmati bayangan ini, dan kau harus tahu bahwa ini adalah bayangan yang sempurna, karena dia ada bahkan ketika bumi sudah beranjak siang.
Kau mungkin menyebutku gila, ketika aku menceritakan hidupku sebelum aku hidup. Tapi tidak, karena bagiku, didalam kitab suciku yang kutulis sendiri, aku sudah ada dibumi ini sejak pertama kali ruh bumi ini ditiupkan. Kita mungkin berbeda, ya...kita memang berbeda, tepi cobalah melihat dari sudut pandangku, karena yang dianggap banci itu aku, bukan kau.
Aah...temanku, tampaknya kau sudah mengantuk mendengar ceritaku, sudahlah jujurlah biar kita akhiri saja. Ambilah ini sebatang rokok lagi sebagai tanda pertemanan kita, hisaplah nanti saat kita sudah berpisah. Aku berharap kau bisa mengenangku, setidaknya kaulah orang yang mau mendengarkan ceritaku, dari sekian banyak kehidupan di mayapada ini. Aku ingin dalam ketidakpastianku ada orang yang tau bahwa aku ada. Terimakasih temanku, aku ingin beranjak mengikuti bayangan, hei...sahabatku sebelum pergi ingatlah bayangan itu memberimu teduh dan membuatmu nyaman, tapi ingatlah, sekali lagi ingatlah aku tidak mendapat apapun darinya, dan.... mmmm..... yah... mungkin.......... aku memang gila.
Minggu, 26 Juli 2009
~~ELEGI KALA GERIMIS~~
Hari ini, dibawah hujan gerimis, di emperan sebuah rumah, aku bertemu seekor kecoak, sungguh aku takjub, ia menyapaku, sungguh ia menyapaku.
“Hai… apa kabar?” katanya seolah mengenalku.
“Baik ….” Jawabku antara bingung dan takjub dan berusaha mengingat apakah aku mengenalnya.
“Aku tidak.” Katanya lagi, padahal aku tidak bertanya.
“Kenapa?” sahutku kemudian, dahiku kurasakan berkerut.
“Kau sungguh ingin tahu? Ia balik bertanya, seolah akulah yang sangat ingin tahu.
“Mmmmm…sebenarnya sih tidak” jawabku. “Tapi kalau kau ingin bercerita aku punya banyak waktu untuk mendengar.”
“Kau tahu….” Matanya menerawang. “Negara ini sedang dijajah.” nah lu apa lagi ini.
“hmmm…. Lalu?” sebenarnya aku tidak tau bahkan tidak mengerti dia bicara apa.
“Yah.. itu membuat kehidupanku jadi susah…? Katanya.
“Tunggu….” Aku menyerah. “Sebelum aku makin bingung, kau katakan dulu apa maksudmu dengan dijajah, yang kulihat semuanya baik-baik saja.”
“Kau kurang membaca dan menonton berita agaknya, temanku…” ia memandang bijak padaku, seolah kasihan.
“Kau tahu negara ini sudah menggadaikan segalanya pada uang, yang kumaksud segalanya adalah, bahkan moral dan jati diri.” Dengan sebuah tarikan napas panjang ia melanjutkan. “Akibatnya adalah seperti ini, aku susah makan.”
“Kalaupun iya.. “ Ini membuatku makin bingung. “Apa hubungannya dengan kamu.”
“Harga-harga mahal, pengangguran, dan lain sebagainya, membuat orang-orang semakin kurang gizi.” Jawabnya.
“Kau tahu…, aku memakan apa saja remah-remah dari orang-orang itu, bahkan kulit mati yang terkelupas dari tubuh mereka adalah makanan lezat bagiku, sementara jika segalanya mahal, remah-remah pun tak ada lagi, tubuh berhenti tumbuh, hingga tak ada lagi kulit mati yang terkelupas.” Katanya
Sebelum aku sempat untuk membuka mulut, ia berkata lagi. “Kau lihat sekarang banjir dimana-mana, begitu banyak saudaraku yang mati terendam karena tidak bisa berenang, kalau hutan makin gundul, itulah akibatnya.”
“Kalau banjir aku tau…” kataku.
“Nah….” Ia memotongku dengan cepat. “Kau harus tahu, itu semua membawa penderitaan bagi kami bangsa kecoak.”
“Kalian…” ia benar-benar mendominasi pembicaraan. “tidakkah bisa memahami, agar kita semua bisa nyaman dan damai, maka alam ini haruslah seimbang, kau tahu manusia terlalu mendominasi dan merasa berkuasa. Tidakkah mereka sadar bahwa kami juga mahluk tuhan.”
Sekarang pembicaraan ini mulai terasa seperti saat sang raja berkhotbah.
“Harusnya mereka juga tahu, kami ini sekutu mereka yang paling setia, yang membantu membersihkan rumah mereka, dan juga kehidupan mereka.” Ia makin menjadi. “Tampaknya bangsa kecoak harus melakukan lompatan evolusi, seperti manusia yang dulu sekali adalah ikan itu, kemudian menjadi penguasa dunia, agar mengatur dunia ini dengan segala pengetahuan yang murni berkah tuhan.” Matanya menatap jauh kebatas cakrawala yang mulai jingga.
“Aku memandang makin takjub padanya, luar biasa, kepala sekecil itu ternyata mempunyai otak yang begitu besar.
Tapi tiba-tiba saja perutku terasa lapar, mungkin karena dingin, dan kecoak ini lumayan gemuk juga, padahal yang dia omongkan dari tadi adalah soal kelaparan dan penderitaan.
“Ahh… tidak apa-apa sengak sedikit, daripada lapar.” Aku mulai kalap.
Dan hupp… dengan satu juluran lidah yang amat lihai dariku, kecoak itu pindah kedalam mulutku, kemudian perut.
“Hmm… lumayan juga.” Batinku. “Sekarang saatnya ke kolam dan memanggil para betina.”
“kroook, krook, kok kok kok…. Kok kok kok…sejuta kali !
“Hai… apa kabar?” katanya seolah mengenalku.
“Baik ….” Jawabku antara bingung dan takjub dan berusaha mengingat apakah aku mengenalnya.
“Aku tidak.” Katanya lagi, padahal aku tidak bertanya.
“Kenapa?” sahutku kemudian, dahiku kurasakan berkerut.
“Kau sungguh ingin tahu? Ia balik bertanya, seolah akulah yang sangat ingin tahu.
“Mmmmm…sebenarnya sih tidak” jawabku. “Tapi kalau kau ingin bercerita aku punya banyak waktu untuk mendengar.”
“Kau tahu….” Matanya menerawang. “Negara ini sedang dijajah.” nah lu apa lagi ini.
“hmmm…. Lalu?” sebenarnya aku tidak tau bahkan tidak mengerti dia bicara apa.
“Yah.. itu membuat kehidupanku jadi susah…? Katanya.
“Tunggu….” Aku menyerah. “Sebelum aku makin bingung, kau katakan dulu apa maksudmu dengan dijajah, yang kulihat semuanya baik-baik saja.”
“Kau kurang membaca dan menonton berita agaknya, temanku…” ia memandang bijak padaku, seolah kasihan.
“Kau tahu negara ini sudah menggadaikan segalanya pada uang, yang kumaksud segalanya adalah, bahkan moral dan jati diri.” Dengan sebuah tarikan napas panjang ia melanjutkan. “Akibatnya adalah seperti ini, aku susah makan.”
“Kalaupun iya.. “ Ini membuatku makin bingung. “Apa hubungannya dengan kamu.”
“Harga-harga mahal, pengangguran, dan lain sebagainya, membuat orang-orang semakin kurang gizi.” Jawabnya.
“Kau tahu…, aku memakan apa saja remah-remah dari orang-orang itu, bahkan kulit mati yang terkelupas dari tubuh mereka adalah makanan lezat bagiku, sementara jika segalanya mahal, remah-remah pun tak ada lagi, tubuh berhenti tumbuh, hingga tak ada lagi kulit mati yang terkelupas.” Katanya
Sebelum aku sempat untuk membuka mulut, ia berkata lagi. “Kau lihat sekarang banjir dimana-mana, begitu banyak saudaraku yang mati terendam karena tidak bisa berenang, kalau hutan makin gundul, itulah akibatnya.”
“Kalau banjir aku tau…” kataku.
“Nah….” Ia memotongku dengan cepat. “Kau harus tahu, itu semua membawa penderitaan bagi kami bangsa kecoak.”
“Kalian…” ia benar-benar mendominasi pembicaraan. “tidakkah bisa memahami, agar kita semua bisa nyaman dan damai, maka alam ini haruslah seimbang, kau tahu manusia terlalu mendominasi dan merasa berkuasa. Tidakkah mereka sadar bahwa kami juga mahluk tuhan.”
Sekarang pembicaraan ini mulai terasa seperti saat sang raja berkhotbah.
“Harusnya mereka juga tahu, kami ini sekutu mereka yang paling setia, yang membantu membersihkan rumah mereka, dan juga kehidupan mereka.” Ia makin menjadi. “Tampaknya bangsa kecoak harus melakukan lompatan evolusi, seperti manusia yang dulu sekali adalah ikan itu, kemudian menjadi penguasa dunia, agar mengatur dunia ini dengan segala pengetahuan yang murni berkah tuhan.” Matanya menatap jauh kebatas cakrawala yang mulai jingga.
“Aku memandang makin takjub padanya, luar biasa, kepala sekecil itu ternyata mempunyai otak yang begitu besar.
Tapi tiba-tiba saja perutku terasa lapar, mungkin karena dingin, dan kecoak ini lumayan gemuk juga, padahal yang dia omongkan dari tadi adalah soal kelaparan dan penderitaan.
“Ahh… tidak apa-apa sengak sedikit, daripada lapar.” Aku mulai kalap.
Dan hupp… dengan satu juluran lidah yang amat lihai dariku, kecoak itu pindah kedalam mulutku, kemudian perut.
“Hmm… lumayan juga.” Batinku. “Sekarang saatnya ke kolam dan memanggil para betina.”
“kroook, krook, kok kok kok…. Kok kok kok…sejuta kali !
~~MANIS, PAHIT, DAN GETIR~~
Dia meletakan tangan kedagu, matanya menerawang mencerna segala sesuatu yang melintas di dalamnya, melewatkan beberapa bagian kecil yang lain.Terkadang dengan gemulai menyibakan rambutnya yang hitam panjang mencapai bahunya.
Dengan baju warna ungu dan celana jeans retro, cutbry, terlihat manis, dengan mulut yang setengah terbuka, hidung bangir yang menempel manis di bawah dua bola matanya yang hitam jernih. Dengan gerakan gelisah kadang dia memandang ke ujung jalan, menunggu. Rindangan pohon jambu klutuk memberikan keteduhan yang membantu mengobati sedikit kegelisahannya, bergerak hampir tidak terasa.
Kursi kayu yang ia duduki berdecit pelan bersama gerakan matanya, kaki meja yang ia gunakan untuk menopang kakinya beringsut oleh otot tendonya yang mengencang. Semilir angin menggoyang pelan daun jambu disudut matanya, ekor matanya menangkap sepasang muda mudi, di seberang jalan dinaungi juluran rumah beton yang catnya mulai kusam, asik dengan dunianya sendiri, membuat dirinya merasa di kucilkan. Ini adalah hari yang kedua, masih sama seperti sehari yang lalu, dia duduk menunggu disini, berharap kekasihnya akan datang menepati janji yang dia ucapkan dua hari yang lalu, bahwa ia akan bertanggung jawab atas semua aib yang sekarang ia tanggung. sudah sejak kemarin ketakutan menjalarinya, kekasihnya sudah satu setengah hari mengingkari janjinya. Ia telan getir yang menyumbat kerongkongan, tetap berharap adalah kekuatan terakhir yang ia miliki, mengingat kisah manis yang telah mereka lalui bersama, mengingat bagaimana kekasihnya selama ini memperlakukan dia bagaikan seorang putri, mengingat bagaimana kekasihnya membisikan janji manis ala sinetron yang biasa ia tonton, membuatnya yakin bahwa masa depannya sudah menuggu dengan gemilang pada belokan jalan berikutnya.Tapi ketakutan itu tidak bisa ia hilangkan walau bagaimanapun juga.mengingat bagaimana kepercayaan yang diberikan orang tuanya, dan ia sudah menghianati salah satu diantaranya. Rasa penat dan tertekan mulai merambati pembuluh darahnya, semua kenangan dan prasangka berpusing mengelilingi tubuhnya. Sekarang ia tidak setenang dua hari yang lalu, tarikan napas panjang sudah semakin sering sembari memandang keujung jalan, berusaha mengurangi himpitan yang menekan dadanya.Daun jambu klutuk melayang turun, bersama hembusan angin yang membelai pelipisnya. Diusapnnya wajahnya dengan kedua tangan, berharap bisa mengurangi rasa kaku dari tumpukan debu di wajahnya. Teringat bagaimana kekasihnya berbisik pelan ketika memintanya berlayar kepaulau surga itu ”Aku akan bertanggung jawab sayang”, yah...demi cinta ia tanggalkan kilasan wajah bapaknya. ingatanya berputar pada bagian cita-citanya ketika melangkahkan kaki menuju kota ini. Bapaknya seperti biasa dengan segelas kopi kental dan rokok lintingan, liukan gemulai asap rokok membuatnya teringat dengan tarian serampang dua belas yang sering ia bawakan, duduk diberanda rumah mereka, berujar dengan suara parau ”Bila nanti kau sampai kekota, ingatlah anakku, kepercayaanku sudah kuberikan padamu, jagalah amanahku ini, sebuah kesalahan akan kau bayar dengan sangat mahal, dan jangan kau lupakan sebelum kau capai cita-cita kita, aku akan selalu menunggu diberanda ini bersama harapanku”. Malam sebelum berangkat, begitu penuh angannya akan masa depan yang gemilang, kata-kata bapaknya sore tadi terpapas kentalnya angan. Terbayang wajah ibunya, menahan tangis, melambaikan tangan, ketika angkutan yang membawa nasipnya sekarang berlalu dengan pelan.Angannya berputar pada saat ia mengenal pemuda itu untuk pertama kalinya, sobat akrabnya pernah memperingatkannya untuk berhati-hati, tapi cinta berbisik lebih keras.Ditariknya selembar foto dari tas merah muda yang terkepit diketiaknya, sebuah wajah dengan bibir ranum dengan senyum yang memikat, tatapan lelaki jantan, dada bidang yang membuatnya ingin bersandar, telah membuatnya tercebur dalam gairah masa muda yang begitu legit. Saat itu, dan masih terasa pantas ia kenang hingga sekarang, telah membuat dunia berpusing dengan amat cepat, sehingga tidak lagi bisa ia melihat dan menyadari dunia lain yang juga berpusing bersamanya, hanya ada dunianya, laki-laki itu membuatnya percaya pada dunia mereka berdua. Kenangan masa kecil menyeruak dengan tiba-tiba pada kegelapan, saat ia menutup mata berharap himpitan didadanya bisa berlalu. Dulu begitu indah kehidupan yang ia lalui, bersama tema-temanya bermain disungai kecil dibelakang rumahnya, tawa riang dan teriakan gembira karena berhasil memdorong Irah, tetangga sebelah rumah masuk air, bergema didalam didalam ruang angan. lengkingan suara ibu menyuruh berhenti, menjadi kekesalan yang sekarang membuatnya terseyum bersama tetesan air mata, ”maafkan aku ibu aku begitu nakal, tapi aku tau kau sayang padaku”, sesalnya berucap. Ibunya, yang dengan telaten mengajarkan padanya bagaimana memasak didapur, mengajarkan dengan tekun segala pekerjaan rumah tangga, ”agar engkau nanti bisa menjadi istri yang baik anaku”, kata ibunya dengan tatapan sayang, yang baru sekarang bisa ia artikan dalam kenangannya, tentu masih bergelut dengan jelaga didapur. Dirumah mereka yang sederhana, dibawah jelaga yang menutupi dapur ibunya ia ikrarkan cita-citanya, tak rela ia melihat ibunya berpayah-payah mengurusi ia dan keempat adiknya, yang bila telah selesai pekerjaan dirumah, menyambar yang tersampir didinding bambu, lalu melangkah pasti menuju sawah pa’ hamid diujung desa, menjadi buruh tani untuk menambah uang belanja mereka, keliatan khas wanita desa yang selalu ia ingin ia miliki. Guratan penderitaan yang tidak pernah terucap membayang dibawah kulit wajah, yang selalu berhasil ia tutupi dengan senyum tabah. Ibu sekali lagi maafkanlah anakmu ini” kembali sesalnya berucap.Waktu berlalu, bersama derita yang harus ia kandung sendiri, ia tersentak, kembali menapak bumi, tatap matanya beralih pada tawa riang seorang anak lelaki berumur dua tahun yang menyambar telinganya, menunjuk gembira pada daun-daun jambu klutuk coklat tua yang melayang pelan menyentuh tanah. Perlahan tangannya terulur mengusap rambut hitam lebat yang mengingatkan pada kekasih yang ia tunggu. Yah...??! bersama hembusan napas dan tatapan cinta seorang ibu dirangkulnya anak itu, disinilah ia sekarang bersama buah dua tahun penantiannya, dan ayahnya masih menunggu diberanda dengan cita-cita mereka.
Dengan baju warna ungu dan celana jeans retro, cutbry, terlihat manis, dengan mulut yang setengah terbuka, hidung bangir yang menempel manis di bawah dua bola matanya yang hitam jernih. Dengan gerakan gelisah kadang dia memandang ke ujung jalan, menunggu. Rindangan pohon jambu klutuk memberikan keteduhan yang membantu mengobati sedikit kegelisahannya, bergerak hampir tidak terasa.
Kursi kayu yang ia duduki berdecit pelan bersama gerakan matanya, kaki meja yang ia gunakan untuk menopang kakinya beringsut oleh otot tendonya yang mengencang. Semilir angin menggoyang pelan daun jambu disudut matanya, ekor matanya menangkap sepasang muda mudi, di seberang jalan dinaungi juluran rumah beton yang catnya mulai kusam, asik dengan dunianya sendiri, membuat dirinya merasa di kucilkan. Ini adalah hari yang kedua, masih sama seperti sehari yang lalu, dia duduk menunggu disini, berharap kekasihnya akan datang menepati janji yang dia ucapkan dua hari yang lalu, bahwa ia akan bertanggung jawab atas semua aib yang sekarang ia tanggung. sudah sejak kemarin ketakutan menjalarinya, kekasihnya sudah satu setengah hari mengingkari janjinya. Ia telan getir yang menyumbat kerongkongan, tetap berharap adalah kekuatan terakhir yang ia miliki, mengingat kisah manis yang telah mereka lalui bersama, mengingat bagaimana kekasihnya selama ini memperlakukan dia bagaikan seorang putri, mengingat bagaimana kekasihnya membisikan janji manis ala sinetron yang biasa ia tonton, membuatnya yakin bahwa masa depannya sudah menuggu dengan gemilang pada belokan jalan berikutnya.Tapi ketakutan itu tidak bisa ia hilangkan walau bagaimanapun juga.mengingat bagaimana kepercayaan yang diberikan orang tuanya, dan ia sudah menghianati salah satu diantaranya. Rasa penat dan tertekan mulai merambati pembuluh darahnya, semua kenangan dan prasangka berpusing mengelilingi tubuhnya. Sekarang ia tidak setenang dua hari yang lalu, tarikan napas panjang sudah semakin sering sembari memandang keujung jalan, berusaha mengurangi himpitan yang menekan dadanya.Daun jambu klutuk melayang turun, bersama hembusan angin yang membelai pelipisnya. Diusapnnya wajahnya dengan kedua tangan, berharap bisa mengurangi rasa kaku dari tumpukan debu di wajahnya. Teringat bagaimana kekasihnya berbisik pelan ketika memintanya berlayar kepaulau surga itu ”Aku akan bertanggung jawab sayang”, yah...demi cinta ia tanggalkan kilasan wajah bapaknya. ingatanya berputar pada bagian cita-citanya ketika melangkahkan kaki menuju kota ini. Bapaknya seperti biasa dengan segelas kopi kental dan rokok lintingan, liukan gemulai asap rokok membuatnya teringat dengan tarian serampang dua belas yang sering ia bawakan, duduk diberanda rumah mereka, berujar dengan suara parau ”Bila nanti kau sampai kekota, ingatlah anakku, kepercayaanku sudah kuberikan padamu, jagalah amanahku ini, sebuah kesalahan akan kau bayar dengan sangat mahal, dan jangan kau lupakan sebelum kau capai cita-cita kita, aku akan selalu menunggu diberanda ini bersama harapanku”. Malam sebelum berangkat, begitu penuh angannya akan masa depan yang gemilang, kata-kata bapaknya sore tadi terpapas kentalnya angan. Terbayang wajah ibunya, menahan tangis, melambaikan tangan, ketika angkutan yang membawa nasipnya sekarang berlalu dengan pelan.Angannya berputar pada saat ia mengenal pemuda itu untuk pertama kalinya, sobat akrabnya pernah memperingatkannya untuk berhati-hati, tapi cinta berbisik lebih keras.Ditariknya selembar foto dari tas merah muda yang terkepit diketiaknya, sebuah wajah dengan bibir ranum dengan senyum yang memikat, tatapan lelaki jantan, dada bidang yang membuatnya ingin bersandar, telah membuatnya tercebur dalam gairah masa muda yang begitu legit. Saat itu, dan masih terasa pantas ia kenang hingga sekarang, telah membuat dunia berpusing dengan amat cepat, sehingga tidak lagi bisa ia melihat dan menyadari dunia lain yang juga berpusing bersamanya, hanya ada dunianya, laki-laki itu membuatnya percaya pada dunia mereka berdua. Kenangan masa kecil menyeruak dengan tiba-tiba pada kegelapan, saat ia menutup mata berharap himpitan didadanya bisa berlalu. Dulu begitu indah kehidupan yang ia lalui, bersama tema-temanya bermain disungai kecil dibelakang rumahnya, tawa riang dan teriakan gembira karena berhasil memdorong Irah, tetangga sebelah rumah masuk air, bergema didalam didalam ruang angan. lengkingan suara ibu menyuruh berhenti, menjadi kekesalan yang sekarang membuatnya terseyum bersama tetesan air mata, ”maafkan aku ibu aku begitu nakal, tapi aku tau kau sayang padaku”, sesalnya berucap. Ibunya, yang dengan telaten mengajarkan padanya bagaimana memasak didapur, mengajarkan dengan tekun segala pekerjaan rumah tangga, ”agar engkau nanti bisa menjadi istri yang baik anaku”, kata ibunya dengan tatapan sayang, yang baru sekarang bisa ia artikan dalam kenangannya, tentu masih bergelut dengan jelaga didapur. Dirumah mereka yang sederhana, dibawah jelaga yang menutupi dapur ibunya ia ikrarkan cita-citanya, tak rela ia melihat ibunya berpayah-payah mengurusi ia dan keempat adiknya, yang bila telah selesai pekerjaan dirumah, menyambar yang tersampir didinding bambu, lalu melangkah pasti menuju sawah pa’ hamid diujung desa, menjadi buruh tani untuk menambah uang belanja mereka, keliatan khas wanita desa yang selalu ia ingin ia miliki. Guratan penderitaan yang tidak pernah terucap membayang dibawah kulit wajah, yang selalu berhasil ia tutupi dengan senyum tabah. Ibu sekali lagi maafkanlah anakmu ini” kembali sesalnya berucap.Waktu berlalu, bersama derita yang harus ia kandung sendiri, ia tersentak, kembali menapak bumi, tatap matanya beralih pada tawa riang seorang anak lelaki berumur dua tahun yang menyambar telinganya, menunjuk gembira pada daun-daun jambu klutuk coklat tua yang melayang pelan menyentuh tanah. Perlahan tangannya terulur mengusap rambut hitam lebat yang mengingatkan pada kekasih yang ia tunggu. Yah...??! bersama hembusan napas dan tatapan cinta seorang ibu dirangkulnya anak itu, disinilah ia sekarang bersama buah dua tahun penantiannya, dan ayahnya masih menunggu diberanda dengan cita-cita mereka.
Selasa, 14 Juli 2009
Aku dan Kau
Apa yang membuat kita tetap bertahan adalah bahwa kita tidak pernah meresapi apa itu penderitaan, ketika semuanya ada, hilang sudah apa yang kita risaukan, lalu angin akan berhembus menyejukan malam-malam panjang yang kita lalui. menghindar dari matahari, menekuni setiap keluhan dengan muka tampa ekspresi. kegelapan selamanya ada dalam hidup kita. menembusi setiap sendi yang pernah kita kenal, menghilang dalam kegalauaan yang menyeruak lalu bersama air hitam danau kebahagiaan.
Ketika kutanyakan ini padamu, apakah kita akan terus bertahan, sementara zaman sudah
menggerus kita, menghambarkan segala impian kita?" dengan dingin engkau menjawab " apa susahnya melupakan masa lalu, kita hanya perlu bersatu malam ini dan lepaslah semua yang ada kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi." sudahlah, tidak ada gunanya jika kutanyakan lagi itu padamu, galau ini akan berlalu bersama waktu yang mengalir walaupun tanpa media.
seperti jenak yang kita lalui beberapa hari kemarin akan seperti juga yang akan kita lalui hari ini. damai akan datang dalam lima belas ketukan bambu yang dipasang di tempat pipit sawah bertengger. lalu bulir padi yang gemuk itu akan bergoyang memanggil dewi sri turun kebumi, meminta berkah pada malaikat mikail, lalu menemukan dirinya sudah gemuk kuning indah tanpa ia sadari. kemudian ia akan memberikan kehidupan kepada begitu banyak mahluk melalui perjalanan yang telah diatur tuhan akan kait-mengkait semua mahluk yang ada dimuka bumi ini.
Ingatkah kau ketika kita makan nasi goreng didepan sarang merpati merak jambul itu. seorang lelaki tua diseberang jalan melangkah ragu, kemudian menarik kembali langkahnya kebelakang, karena sebuah kesombongan sedang melintas, merasa dirinya penting dan berhak untuk melintas lebih dahulu. ingatkah kau bagaimana pandangan mata yang memelas darinya, yang membuat selera makanku hilang seketika, ketika beradu pandang dengannnya. sungguh tidak adil bukan, ketika kita berdua mengisi tembolok kita dengan makanan setengah mahal itu, dengan mukan memelas dan tangan dan tubuh yang gemetar ia menadahkan tangannya pada kita, kenapa kau hanya memberikan telapak tanganmu padanya sedang aku berusaha terlihat tidak perduli. kenapa kita tidak makan saja ditempat yang harga makanannya setengah dari tempat ini, kemudian setengahnya kita berikan saja pada dia biar kita sama-sama kenyang, adil bukan?
Seribu alasan akan kita perdebatkan, engkau akan berkata, aku yakin itu "itu pilihan hidup mereka, jika kau berikan uang sementara kau tidak setuju dengan hal itu kau akan mendidik mereka untuk selamanya seperti itu. bukankan didunia ini ada hukum keseimbangan kalau tidak ada yang memberi tentu tidak ada yang minta bukan? kejam sekali. sementara aku akan membela bahwa dikondisi seperti ini bukankah tidak semua orang punya kesempatan? lalu kau akan berteriak kesempatan itu sedang ia ambil dan ia jalani sekarang. lalu kita akan diam bingung apa sebenarnya yang kita perdebatkan. sambil bertanya dalam hati masing-masing siapa sebenarnya yang benar. lalu aku bertanya lagi apakah benar ada orang yang memilih menjadi seperti mereka. maka dengan ketus kau semburkan kata "ada dan sekarang kita sedang membicarakannnya”." hhhh..... puuh, aku capek”.
Kuambil selembar tisu menyapu mukaku, berguman tidak penting dan bangkit menemui kekesalan yang lain. Berapa lagi yang akan kita temukan kesombongan yang lain, kau tau nurani kita telah begitu tebal kita lapisi dengan berbagai macam alasan yang kita buat sendiri.
Kau tau ketika peradaban ini berusaha berpaling dalam titik baliknya, kita tidak sanggup untuk berpaling karena kapal yang kita tumpangi sudah karam dalam lautan pendewaan yang tidak lagi mengarahkan wajahnya pada kemanusiaan. Kita terperangkap dalam lubang yang kita gali sendiri. Kau tau kita terlalu terbiasa menerima sesuatu tanpa mengingat siapa diri kita. Kita berpaling dari jati diri kita sendiri. Kemanusiaan sudah kita lupakan dan tinggalkan disudut jalan panjang kebudayaan kita.
Aku ingin kau tau aku begitu lelah dengan semua ini, bahkan hampir frustasi dibuatnya. Dari setiap malam yang menjadi lebih panjang yang kulalui, dan siang yang memendek aku sadar aku sudah mengalami gejala awal frustasi, bukakankah kata orang jika seseorang sulit tidur maka sebenarnya ia sedang mengalami gejala awal stress. Aku tau penyakitnya tapi aku tidak sanggup mengobatinya karena ketidak perdulianmu.
Bau amis dan bacin dari pasar ikan diujung pelabuhan yang tercium sampai kebilik kita adakah kau terganggu, tidak bukan, kau asik dengan mimpi yang dijanjikan oleh dewa baru kita yang begitu saja kau turuti ketika ia mengajak kau pergi dari kemanusiaan, sedang aku tak bisa bahkan berusaha untuk menghentikan kamu, sayang biarlah kucium tanganmu sebagai tanda permintaan maaf dan maukah kau kembali kepadaku setelah dua detak jantung srigala lapar padang lalang yang melolong memanggil kekasihnya yang dibawa bulan purnama kelangit jauh sana.
Aku mencintai kau melebihi jantungku, sehingga kuturuti langkahmu selama ini segala beban kupanggul tanpa kuceritakan padamu, tapi tetap kuturuti langkahmu, kumohon sekali ini mengertilah, aku sudah hampir diujung kesabaranku dan berniat berpaling darimu dalam waktu yang sudah kutentukan sendiri. Aku sudah memutuskan untuk hanya menunggumu setelah dua purnama lagi, bersama srigala lapar dipadang lalang itu. Itu akan memberimu cukup waktu untuk memahamiku, kumohon sayang diamlah jangan berbicara lagi, renungkanlah dulu maksudku dan kau putuskanlah untuk memahamiku atau tidak. Karena ketika kau memutuskan untuk memahami ku maka aku berjanji bahwa tidak akan ada jalan mudah yang akan kita lalui setelah dua purnama itu, semuanya hanya kesusahan dan tantangan, tapi itulah perhargaan tertinggi tuhan pada mahluknya Dia memberikan tantangan karena dia tahu kita bisa melaluinya, agar kita pantas menyematkan kata manusia pada jenis kita.
Aku tau kau akan merengut dan diam sejenak merasa kata-kata yang kuucapkan ini benar, tapi menolak untuk menerimanya, kemudian mencari beribu alasan yang lain untuk menghindarinya. Aku tau itu, aku tau karena aku telah mengenalmu sepanjang usiaku, sejak kita dalam kandungan ibu, sejak kita pertama kali melihat dunia dan menangis bersama dengan keras ketika merasakan bahwa dunia ternyata begitu dingin dan tidak sehangat rahim ibu, tapi kita tidak lagi bisa kembali kesana bukan, karena kita telah berjanji pada tuhan untuk hidup didunia dan menentukan pilihan hidup yang sudah kita pilih sejak kita berbincang denganNya di ArsiNya.
Kalau begitu sayang aku minta waktumu sejenak, aku ingin mengajak engkau mengembara sejenak pada kelam malam dibawah kelip dua bintang dan lima ekor burung balam yang terbang rendah menyapa ujung dahan meranti hutan diujung desa kita.
Dengarlah jangkrik malam itu, ia bernyanyi lagu rindu tentang hutannya yang dulu begitu makmur, dengar lah gerutu burung hantu itu yang mengeluh karena tikus sudah tak segemuk dulu, hingga satu ekor tikus tidak lagi bisa membuatnya kenyang, dengarlah juga tangisan akar-akar rumput yang melolong karena tanahnya sudah tak gembur lagi, sehingga umurnya sudah divonis hanya akan tinggal beberapa purnama lagi, karena kurang gizi.
Tentu kau sudah lelah, marilah kita pulang minum kopi sejenak di depan sarang merpati merak jambul yang menjadi favoritmu itu, hal itu sudah cukup banyak untuk kau fikirkan, ingatlah kita tidak diciptakan sendirian oleh tuhan, ketika kita lahir jutaan jangkrik, jutaan burung hantu, jutaan tikus, jutaan rumput juga lahir dan tumbuh untuk mendukung kehidupan kita. Kita tidak bisa tidak perduli pada mereka, ketika kita tidak melihat mereka bukan berarti mereka tidak ada sayang, dan ketika mereka tidak tersentuh oleh kita bukan berarti mereka tidak berhubungan dengan hidup kita. Marilah sayang minumlah kopimu sebelum dingin dan membuat kau sakit perut.
Setelah ini kita akan berjalan menuju dua simpangan yang berbeda, aku akan keutara dan kau keselatan kita akan menempuh jalan kita masing-masing dahulu dan berjanjilah kau akan datang setelah dua purnama lagi disini ditempat ini, ditempat favoritmu ini, untuk memutuskan akan kemanakah kita berdua, pertanyaan ini akan kubawa bersamaku dalam dua purnama ini, apakah nanti kita akan bersatu atau kau akan memilih untuk menempuh jalanmu, kita tidak berpisah sayang, hanya berjalan sebentar untuk menemukan diri kita masing-masing. Aku juga akan berusaha memahami mu, dan sekiranya aku sanggup untuk memahami mu maka tidak tertutup kemungkinan aku akan berjalan lagi mengikutimu.
Sudahlah sayang tidak perlu kau menangis, lihatlah dua ekor ngengat itu berdengung menertawakan kita, kau tau bukan bahwa lampu temaram diatas juga sedang bersedih dengan perbedaan kita.
Ketika kutanyakan ini padamu, apakah kita akan terus bertahan, sementara zaman sudah
menggerus kita, menghambarkan segala impian kita?" dengan dingin engkau menjawab " apa susahnya melupakan masa lalu, kita hanya perlu bersatu malam ini dan lepaslah semua yang ada kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi." sudahlah, tidak ada gunanya jika kutanyakan lagi itu padamu, galau ini akan berlalu bersama waktu yang mengalir walaupun tanpa media.
seperti jenak yang kita lalui beberapa hari kemarin akan seperti juga yang akan kita lalui hari ini. damai akan datang dalam lima belas ketukan bambu yang dipasang di tempat pipit sawah bertengger. lalu bulir padi yang gemuk itu akan bergoyang memanggil dewi sri turun kebumi, meminta berkah pada malaikat mikail, lalu menemukan dirinya sudah gemuk kuning indah tanpa ia sadari. kemudian ia akan memberikan kehidupan kepada begitu banyak mahluk melalui perjalanan yang telah diatur tuhan akan kait-mengkait semua mahluk yang ada dimuka bumi ini.
Ingatkah kau ketika kita makan nasi goreng didepan sarang merpati merak jambul itu. seorang lelaki tua diseberang jalan melangkah ragu, kemudian menarik kembali langkahnya kebelakang, karena sebuah kesombongan sedang melintas, merasa dirinya penting dan berhak untuk melintas lebih dahulu. ingatkah kau bagaimana pandangan mata yang memelas darinya, yang membuat selera makanku hilang seketika, ketika beradu pandang dengannnya. sungguh tidak adil bukan, ketika kita berdua mengisi tembolok kita dengan makanan setengah mahal itu, dengan mukan memelas dan tangan dan tubuh yang gemetar ia menadahkan tangannya pada kita, kenapa kau hanya memberikan telapak tanganmu padanya sedang aku berusaha terlihat tidak perduli. kenapa kita tidak makan saja ditempat yang harga makanannya setengah dari tempat ini, kemudian setengahnya kita berikan saja pada dia biar kita sama-sama kenyang, adil bukan?
Seribu alasan akan kita perdebatkan, engkau akan berkata, aku yakin itu "itu pilihan hidup mereka, jika kau berikan uang sementara kau tidak setuju dengan hal itu kau akan mendidik mereka untuk selamanya seperti itu. bukankan didunia ini ada hukum keseimbangan kalau tidak ada yang memberi tentu tidak ada yang minta bukan? kejam sekali. sementara aku akan membela bahwa dikondisi seperti ini bukankah tidak semua orang punya kesempatan? lalu kau akan berteriak kesempatan itu sedang ia ambil dan ia jalani sekarang. lalu kita akan diam bingung apa sebenarnya yang kita perdebatkan. sambil bertanya dalam hati masing-masing siapa sebenarnya yang benar. lalu aku bertanya lagi apakah benar ada orang yang memilih menjadi seperti mereka. maka dengan ketus kau semburkan kata "ada dan sekarang kita sedang membicarakannnya”." hhhh..... puuh, aku capek”.
Kuambil selembar tisu menyapu mukaku, berguman tidak penting dan bangkit menemui kekesalan yang lain. Berapa lagi yang akan kita temukan kesombongan yang lain, kau tau nurani kita telah begitu tebal kita lapisi dengan berbagai macam alasan yang kita buat sendiri.
Kau tau ketika peradaban ini berusaha berpaling dalam titik baliknya, kita tidak sanggup untuk berpaling karena kapal yang kita tumpangi sudah karam dalam lautan pendewaan yang tidak lagi mengarahkan wajahnya pada kemanusiaan. Kita terperangkap dalam lubang yang kita gali sendiri. Kau tau kita terlalu terbiasa menerima sesuatu tanpa mengingat siapa diri kita. Kita berpaling dari jati diri kita sendiri. Kemanusiaan sudah kita lupakan dan tinggalkan disudut jalan panjang kebudayaan kita.
Aku ingin kau tau aku begitu lelah dengan semua ini, bahkan hampir frustasi dibuatnya. Dari setiap malam yang menjadi lebih panjang yang kulalui, dan siang yang memendek aku sadar aku sudah mengalami gejala awal frustasi, bukakankah kata orang jika seseorang sulit tidur maka sebenarnya ia sedang mengalami gejala awal stress. Aku tau penyakitnya tapi aku tidak sanggup mengobatinya karena ketidak perdulianmu.
Bau amis dan bacin dari pasar ikan diujung pelabuhan yang tercium sampai kebilik kita adakah kau terganggu, tidak bukan, kau asik dengan mimpi yang dijanjikan oleh dewa baru kita yang begitu saja kau turuti ketika ia mengajak kau pergi dari kemanusiaan, sedang aku tak bisa bahkan berusaha untuk menghentikan kamu, sayang biarlah kucium tanganmu sebagai tanda permintaan maaf dan maukah kau kembali kepadaku setelah dua detak jantung srigala lapar padang lalang yang melolong memanggil kekasihnya yang dibawa bulan purnama kelangit jauh sana.
Aku mencintai kau melebihi jantungku, sehingga kuturuti langkahmu selama ini segala beban kupanggul tanpa kuceritakan padamu, tapi tetap kuturuti langkahmu, kumohon sekali ini mengertilah, aku sudah hampir diujung kesabaranku dan berniat berpaling darimu dalam waktu yang sudah kutentukan sendiri. Aku sudah memutuskan untuk hanya menunggumu setelah dua purnama lagi, bersama srigala lapar dipadang lalang itu. Itu akan memberimu cukup waktu untuk memahamiku, kumohon sayang diamlah jangan berbicara lagi, renungkanlah dulu maksudku dan kau putuskanlah untuk memahamiku atau tidak. Karena ketika kau memutuskan untuk memahami ku maka aku berjanji bahwa tidak akan ada jalan mudah yang akan kita lalui setelah dua purnama itu, semuanya hanya kesusahan dan tantangan, tapi itulah perhargaan tertinggi tuhan pada mahluknya Dia memberikan tantangan karena dia tahu kita bisa melaluinya, agar kita pantas menyematkan kata manusia pada jenis kita.
Aku tau kau akan merengut dan diam sejenak merasa kata-kata yang kuucapkan ini benar, tapi menolak untuk menerimanya, kemudian mencari beribu alasan yang lain untuk menghindarinya. Aku tau itu, aku tau karena aku telah mengenalmu sepanjang usiaku, sejak kita dalam kandungan ibu, sejak kita pertama kali melihat dunia dan menangis bersama dengan keras ketika merasakan bahwa dunia ternyata begitu dingin dan tidak sehangat rahim ibu, tapi kita tidak lagi bisa kembali kesana bukan, karena kita telah berjanji pada tuhan untuk hidup didunia dan menentukan pilihan hidup yang sudah kita pilih sejak kita berbincang denganNya di ArsiNya.
Kalau begitu sayang aku minta waktumu sejenak, aku ingin mengajak engkau mengembara sejenak pada kelam malam dibawah kelip dua bintang dan lima ekor burung balam yang terbang rendah menyapa ujung dahan meranti hutan diujung desa kita.
Dengarlah jangkrik malam itu, ia bernyanyi lagu rindu tentang hutannya yang dulu begitu makmur, dengar lah gerutu burung hantu itu yang mengeluh karena tikus sudah tak segemuk dulu, hingga satu ekor tikus tidak lagi bisa membuatnya kenyang, dengarlah juga tangisan akar-akar rumput yang melolong karena tanahnya sudah tak gembur lagi, sehingga umurnya sudah divonis hanya akan tinggal beberapa purnama lagi, karena kurang gizi.
Tentu kau sudah lelah, marilah kita pulang minum kopi sejenak di depan sarang merpati merak jambul yang menjadi favoritmu itu, hal itu sudah cukup banyak untuk kau fikirkan, ingatlah kita tidak diciptakan sendirian oleh tuhan, ketika kita lahir jutaan jangkrik, jutaan burung hantu, jutaan tikus, jutaan rumput juga lahir dan tumbuh untuk mendukung kehidupan kita. Kita tidak bisa tidak perduli pada mereka, ketika kita tidak melihat mereka bukan berarti mereka tidak ada sayang, dan ketika mereka tidak tersentuh oleh kita bukan berarti mereka tidak berhubungan dengan hidup kita. Marilah sayang minumlah kopimu sebelum dingin dan membuat kau sakit perut.
Setelah ini kita akan berjalan menuju dua simpangan yang berbeda, aku akan keutara dan kau keselatan kita akan menempuh jalan kita masing-masing dahulu dan berjanjilah kau akan datang setelah dua purnama lagi disini ditempat ini, ditempat favoritmu ini, untuk memutuskan akan kemanakah kita berdua, pertanyaan ini akan kubawa bersamaku dalam dua purnama ini, apakah nanti kita akan bersatu atau kau akan memilih untuk menempuh jalanmu, kita tidak berpisah sayang, hanya berjalan sebentar untuk menemukan diri kita masing-masing. Aku juga akan berusaha memahami mu, dan sekiranya aku sanggup untuk memahami mu maka tidak tertutup kemungkinan aku akan berjalan lagi mengikutimu.
Sudahlah sayang tidak perlu kau menangis, lihatlah dua ekor ngengat itu berdengung menertawakan kita, kau tau bukan bahwa lampu temaram diatas juga sedang bersedih dengan perbedaan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)