Minggu, 26 Juli 2009

~~MANIS, PAHIT, DAN GETIR~~

Dia meletakan tangan kedagu, matanya menerawang mencerna segala sesuatu yang melintas di dalamnya, melewatkan beberapa bagian kecil yang lain.Terkadang dengan gemulai menyibakan rambutnya yang hitam panjang mencapai bahunya.
Dengan baju warna ungu dan celana jeans retro, cutbry, terlihat manis, dengan mulut yang setengah terbuka, hidung bangir yang menempel manis di bawah dua bola matanya yang hitam jernih. Dengan gerakan gelisah kadang dia memandang ke ujung jalan, menunggu. Rindangan pohon jambu klutuk memberikan keteduhan yang membantu mengobati sedikit kegelisahannya, bergerak hampir tidak terasa.
Kursi kayu yang ia duduki berdecit pelan bersama gerakan matanya, kaki meja yang ia gunakan untuk menopang kakinya beringsut oleh otot tendonya yang mengencang. Semilir angin menggoyang pelan daun jambu disudut matanya, ekor matanya menangkap sepasang muda mudi, di seberang jalan dinaungi juluran rumah beton yang catnya mulai kusam, asik dengan dunianya sendiri, membuat dirinya merasa di kucilkan. Ini adalah hari yang kedua, masih sama seperti sehari yang lalu, dia duduk menunggu disini, berharap kekasihnya akan datang menepati janji yang dia ucapkan dua hari yang lalu, bahwa ia akan bertanggung jawab atas semua aib yang sekarang ia tanggung. sudah sejak kemarin ketakutan menjalarinya, kekasihnya sudah satu setengah hari mengingkari janjinya. Ia telan getir yang menyumbat kerongkongan, tetap berharap adalah kekuatan terakhir yang ia miliki, mengingat kisah manis yang telah mereka lalui bersama, mengingat bagaimana kekasihnya selama ini memperlakukan dia bagaikan seorang putri, mengingat bagaimana kekasihnya membisikan janji manis ala sinetron yang biasa ia tonton, membuatnya yakin bahwa masa depannya sudah menuggu dengan gemilang pada belokan jalan berikutnya.Tapi ketakutan itu tidak bisa ia hilangkan walau bagaimanapun juga.mengingat bagaimana kepercayaan yang diberikan orang tuanya, dan ia sudah menghianati salah satu diantaranya. Rasa penat dan tertekan mulai merambati pembuluh darahnya, semua kenangan dan prasangka berpusing mengelilingi tubuhnya. Sekarang ia tidak setenang dua hari yang lalu, tarikan napas panjang sudah semakin sering sembari memandang keujung jalan, berusaha mengurangi himpitan yang menekan dadanya.Daun jambu klutuk melayang turun, bersama hembusan angin yang membelai pelipisnya. Diusapnnya wajahnya dengan kedua tangan, berharap bisa mengurangi rasa kaku dari tumpukan debu di wajahnya. Teringat bagaimana kekasihnya berbisik pelan ketika memintanya berlayar kepaulau surga itu ”Aku akan bertanggung jawab sayang”, yah...demi cinta ia tanggalkan kilasan wajah bapaknya. ingatanya berputar pada bagian cita-citanya ketika melangkahkan kaki menuju kota ini. Bapaknya seperti biasa dengan segelas kopi kental dan rokok lintingan, liukan gemulai asap rokok membuatnya teringat dengan tarian serampang dua belas yang sering ia bawakan, duduk diberanda rumah mereka, berujar dengan suara parau ”Bila nanti kau sampai kekota, ingatlah anakku, kepercayaanku sudah kuberikan padamu, jagalah amanahku ini, sebuah kesalahan akan kau bayar dengan sangat mahal, dan jangan kau lupakan sebelum kau capai cita-cita kita, aku akan selalu menunggu diberanda ini bersama harapanku”. Malam sebelum berangkat, begitu penuh angannya akan masa depan yang gemilang, kata-kata bapaknya sore tadi terpapas kentalnya angan. Terbayang wajah ibunya, menahan tangis, melambaikan tangan, ketika angkutan yang membawa nasipnya sekarang berlalu dengan pelan.Angannya berputar pada saat ia mengenal pemuda itu untuk pertama kalinya, sobat akrabnya pernah memperingatkannya untuk berhati-hati, tapi cinta berbisik lebih keras.Ditariknya selembar foto dari tas merah muda yang terkepit diketiaknya, sebuah wajah dengan bibir ranum dengan senyum yang memikat, tatapan lelaki jantan, dada bidang yang membuatnya ingin bersandar, telah membuatnya tercebur dalam gairah masa muda yang begitu legit. Saat itu, dan masih terasa pantas ia kenang hingga sekarang, telah membuat dunia berpusing dengan amat cepat, sehingga tidak lagi bisa ia melihat dan menyadari dunia lain yang juga berpusing bersamanya, hanya ada dunianya, laki-laki itu membuatnya percaya pada dunia mereka berdua. Kenangan masa kecil menyeruak dengan tiba-tiba pada kegelapan, saat ia menutup mata berharap himpitan didadanya bisa berlalu. Dulu begitu indah kehidupan yang ia lalui, bersama tema-temanya bermain disungai kecil dibelakang rumahnya, tawa riang dan teriakan gembira karena berhasil memdorong Irah, tetangga sebelah rumah masuk air, bergema didalam didalam ruang angan. lengkingan suara ibu menyuruh berhenti, menjadi kekesalan yang sekarang membuatnya terseyum bersama tetesan air mata, ”maafkan aku ibu aku begitu nakal, tapi aku tau kau sayang padaku”, sesalnya berucap. Ibunya, yang dengan telaten mengajarkan padanya bagaimana memasak didapur, mengajarkan dengan tekun segala pekerjaan rumah tangga, ”agar engkau nanti bisa menjadi istri yang baik anaku”, kata ibunya dengan tatapan sayang, yang baru sekarang bisa ia artikan dalam kenangannya, tentu masih bergelut dengan jelaga didapur. Dirumah mereka yang sederhana, dibawah jelaga yang menutupi dapur ibunya ia ikrarkan cita-citanya, tak rela ia melihat ibunya berpayah-payah mengurusi ia dan keempat adiknya, yang bila telah selesai pekerjaan dirumah, menyambar yang tersampir didinding bambu, lalu melangkah pasti menuju sawah pa’ hamid diujung desa, menjadi buruh tani untuk menambah uang belanja mereka, keliatan khas wanita desa yang selalu ia ingin ia miliki. Guratan penderitaan yang tidak pernah terucap membayang dibawah kulit wajah, yang selalu berhasil ia tutupi dengan senyum tabah. Ibu sekali lagi maafkanlah anakmu ini” kembali sesalnya berucap.Waktu berlalu, bersama derita yang harus ia kandung sendiri, ia tersentak, kembali menapak bumi, tatap matanya beralih pada tawa riang seorang anak lelaki berumur dua tahun yang menyambar telinganya, menunjuk gembira pada daun-daun jambu klutuk coklat tua yang melayang pelan menyentuh tanah. Perlahan tangannya terulur mengusap rambut hitam lebat yang mengingatkan pada kekasih yang ia tunggu. Yah...??! bersama hembusan napas dan tatapan cinta seorang ibu dirangkulnya anak itu, disinilah ia sekarang bersama buah dua tahun penantiannya, dan ayahnya masih menunggu diberanda dengan cita-cita mereka.

Tidak ada komentar: