Selasa, 14 Juli 2009

Aku dan Kau

Apa yang membuat kita tetap bertahan adalah bahwa kita tidak pernah meresapi apa itu penderitaan, ketika semuanya ada, hilang sudah apa yang kita risaukan, lalu angin akan berhembus menyejukan malam-malam panjang yang kita lalui. menghindar dari matahari, menekuni setiap keluhan dengan muka tampa ekspresi. kegelapan selamanya ada dalam hidup kita. menembusi setiap sendi yang pernah kita kenal, menghilang dalam kegalauaan yang menyeruak lalu bersama air hitam danau kebahagiaan.

Ketika kutanyakan ini padamu, apakah kita akan terus bertahan, sementara zaman sudah
menggerus kita, menghambarkan segala impian kita?" dengan dingin engkau menjawab " apa susahnya melupakan masa lalu, kita hanya perlu bersatu malam ini dan lepaslah semua yang ada kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi." sudahlah, tidak ada gunanya jika kutanyakan lagi itu padamu, galau ini akan berlalu bersama waktu yang mengalir walaupun tanpa media.

seperti jenak yang kita lalui beberapa hari kemarin akan seperti juga yang akan kita lalui hari ini. damai akan datang dalam lima belas ketukan bambu yang dipasang di tempat pipit sawah bertengger. lalu bulir padi yang gemuk itu akan bergoyang memanggil dewi sri turun kebumi, meminta berkah pada malaikat mikail, lalu menemukan dirinya sudah gemuk kuning indah tanpa ia sadari. kemudian ia akan memberikan kehidupan kepada begitu banyak mahluk melalui perjalanan yang telah diatur tuhan akan kait-mengkait semua mahluk yang ada dimuka bumi ini.

Ingatkah kau ketika kita makan nasi goreng didepan sarang merpati merak jambul itu. seorang lelaki tua diseberang jalan melangkah ragu, kemudian menarik kembali langkahnya kebelakang, karena sebuah kesombongan sedang melintas, merasa dirinya penting dan berhak untuk melintas lebih dahulu. ingatkah kau bagaimana pandangan mata yang memelas darinya, yang membuat selera makanku hilang seketika, ketika beradu pandang dengannnya. sungguh tidak adil bukan, ketika kita berdua mengisi tembolok kita dengan makanan setengah mahal itu, dengan mukan memelas dan tangan dan tubuh yang gemetar ia menadahkan tangannya pada kita, kenapa kau hanya memberikan telapak tanganmu padanya sedang aku berusaha terlihat tidak perduli. kenapa kita tidak makan saja ditempat yang harga makanannya setengah dari tempat ini, kemudian setengahnya kita berikan saja pada dia biar kita sama-sama kenyang, adil bukan?

Seribu alasan akan kita perdebatkan, engkau akan berkata, aku yakin itu "itu pilihan hidup mereka, jika kau berikan uang sementara kau tidak setuju dengan hal itu kau akan mendidik mereka untuk selamanya seperti itu. bukankan didunia ini ada hukum keseimbangan kalau tidak ada yang memberi tentu tidak ada yang minta bukan? kejam sekali. sementara aku akan membela bahwa dikondisi seperti ini bukankah tidak semua orang punya kesempatan? lalu kau akan berteriak kesempatan itu sedang ia ambil dan ia jalani sekarang. lalu kita akan diam bingung apa sebenarnya yang kita perdebatkan. sambil bertanya dalam hati masing-masing siapa sebenarnya yang benar. lalu aku bertanya lagi apakah benar ada orang yang memilih menjadi seperti mereka. maka dengan ketus kau semburkan kata "ada dan sekarang kita sedang membicarakannnya”." hhhh..... puuh, aku capek”.

Kuambil selembar tisu menyapu mukaku, berguman tidak penting dan bangkit menemui kekesalan yang lain. Berapa lagi yang akan kita temukan kesombongan yang lain, kau tau nurani kita telah begitu tebal kita lapisi dengan berbagai macam alasan yang kita buat sendiri.

Kau tau ketika peradaban ini berusaha berpaling dalam titik baliknya, kita tidak sanggup untuk berpaling karena kapal yang kita tumpangi sudah karam dalam lautan pendewaan yang tidak lagi mengarahkan wajahnya pada kemanusiaan. Kita terperangkap dalam lubang yang kita gali sendiri. Kau tau kita terlalu terbiasa menerima sesuatu tanpa mengingat siapa diri kita. Kita berpaling dari jati diri kita sendiri. Kemanusiaan sudah kita lupakan dan tinggalkan disudut jalan panjang kebudayaan kita.

Aku ingin kau tau aku begitu lelah dengan semua ini, bahkan hampir frustasi dibuatnya. Dari setiap malam yang menjadi lebih panjang yang kulalui, dan siang yang memendek aku sadar aku sudah mengalami gejala awal frustasi, bukakankah kata orang jika seseorang sulit tidur maka sebenarnya ia sedang mengalami gejala awal stress. Aku tau penyakitnya tapi aku tidak sanggup mengobatinya karena ketidak perdulianmu.

Bau amis dan bacin dari pasar ikan diujung pelabuhan yang tercium sampai kebilik kita adakah kau terganggu, tidak bukan, kau asik dengan mimpi yang dijanjikan oleh dewa baru kita yang begitu saja kau turuti ketika ia mengajak kau pergi dari kemanusiaan, sedang aku tak bisa bahkan berusaha untuk menghentikan kamu, sayang biarlah kucium tanganmu sebagai tanda permintaan maaf dan maukah kau kembali kepadaku setelah dua detak jantung srigala lapar padang lalang yang melolong memanggil kekasihnya yang dibawa bulan purnama kelangit jauh sana.

Aku mencintai kau melebihi jantungku, sehingga kuturuti langkahmu selama ini segala beban kupanggul tanpa kuceritakan padamu, tapi tetap kuturuti langkahmu, kumohon sekali ini mengertilah, aku sudah hampir diujung kesabaranku dan berniat berpaling darimu dalam waktu yang sudah kutentukan sendiri. Aku sudah memutuskan untuk hanya menunggumu setelah dua purnama lagi, bersama srigala lapar dipadang lalang itu. Itu akan memberimu cukup waktu untuk memahamiku, kumohon sayang diamlah jangan berbicara lagi, renungkanlah dulu maksudku dan kau putuskanlah untuk memahamiku atau tidak. Karena ketika kau memutuskan untuk memahami ku maka aku berjanji bahwa tidak akan ada jalan mudah yang akan kita lalui setelah dua purnama itu, semuanya hanya kesusahan dan tantangan, tapi itulah perhargaan tertinggi tuhan pada mahluknya Dia memberikan tantangan karena dia tahu kita bisa melaluinya, agar kita pantas menyematkan kata manusia pada jenis kita.

Aku tau kau akan merengut dan diam sejenak merasa kata-kata yang kuucapkan ini benar, tapi menolak untuk menerimanya, kemudian mencari beribu alasan yang lain untuk menghindarinya. Aku tau itu, aku tau karena aku telah mengenalmu sepanjang usiaku, sejak kita dalam kandungan ibu, sejak kita pertama kali melihat dunia dan menangis bersama dengan keras ketika merasakan bahwa dunia ternyata begitu dingin dan tidak sehangat rahim ibu, tapi kita tidak lagi bisa kembali kesana bukan, karena kita telah berjanji pada tuhan untuk hidup didunia dan menentukan pilihan hidup yang sudah kita pilih sejak kita berbincang denganNya di ArsiNya.

Kalau begitu sayang aku minta waktumu sejenak, aku ingin mengajak engkau mengembara sejenak pada kelam malam dibawah kelip dua bintang dan lima ekor burung balam yang terbang rendah menyapa ujung dahan meranti hutan diujung desa kita.

Dengarlah jangkrik malam itu, ia bernyanyi lagu rindu tentang hutannya yang dulu begitu makmur, dengar lah gerutu burung hantu itu yang mengeluh karena tikus sudah tak segemuk dulu, hingga satu ekor tikus tidak lagi bisa membuatnya kenyang, dengarlah juga tangisan akar-akar rumput yang melolong karena tanahnya sudah tak gembur lagi, sehingga umurnya sudah divonis hanya akan tinggal beberapa purnama lagi, karena kurang gizi.

Tentu kau sudah lelah, marilah kita pulang minum kopi sejenak di depan sarang merpati merak jambul yang menjadi favoritmu itu, hal itu sudah cukup banyak untuk kau fikirkan, ingatlah kita tidak diciptakan sendirian oleh tuhan, ketika kita lahir jutaan jangkrik, jutaan burung hantu, jutaan tikus, jutaan rumput juga lahir dan tumbuh untuk mendukung kehidupan kita. Kita tidak bisa tidak perduli pada mereka, ketika kita tidak melihat mereka bukan berarti mereka tidak ada sayang, dan ketika mereka tidak tersentuh oleh kita bukan berarti mereka tidak berhubungan dengan hidup kita. Marilah sayang minumlah kopimu sebelum dingin dan membuat kau sakit perut.

Setelah ini kita akan berjalan menuju dua simpangan yang berbeda, aku akan keutara dan kau keselatan kita akan menempuh jalan kita masing-masing dahulu dan berjanjilah kau akan datang setelah dua purnama lagi disini ditempat ini, ditempat favoritmu ini, untuk memutuskan akan kemanakah kita berdua, pertanyaan ini akan kubawa bersamaku dalam dua purnama ini, apakah nanti kita akan bersatu atau kau akan memilih untuk menempuh jalanmu, kita tidak berpisah sayang, hanya berjalan sebentar untuk menemukan diri kita masing-masing. Aku juga akan berusaha memahami mu, dan sekiranya aku sanggup untuk memahami mu maka tidak tertutup kemungkinan aku akan berjalan lagi mengikutimu.

Sudahlah sayang tidak perlu kau menangis, lihatlah dua ekor ngengat itu berdengung menertawakan kita, kau tau bukan bahwa lampu temaram diatas juga sedang bersedih dengan perbedaan kita.

Tidak ada komentar: