Minggu, 26 Juli 2009

~~AZAN~~

Sudah jam tiga pagi. Kurebahkan badanku pada gumpalan kapuk yang sudah mulai keras ini, bersamaan dengan hembusan napas. Mataku menerawang langit-langit kamar yang mulai menghitam, tertutup asap jelatang, kiriman dari dapur ibuku. Suara mendesis dari penggorengan, melahap kekuatanku menahan rasa lapar. Besok, nampaknya ibuku akan berjualan lagi.

Kuambil Karl Marx dari meja di samping dipan. Membuka halamannya tanpa tujuan, kemudian kulemparkan lagi ke samping badanku, setelah membaca beberapa baris, yang membuat otakku menjadi lemas. Aku menerawang. Aku sudah terpisah ratusan tahun dari Karl Marx, nabi Muhammad, dan puluhan tahun dari Gandhi. Masih saja ibuku harus menggoreng ikan peda dari pasar amis di ujung jalan, untuk mencari sedikit tambahan, demi menyangga otot ini, sekedar agar bisa berjalan esok pagi. Sementara persoalan semakin hari semakin menumpuk. Semakin bertambah usiaku semakin aku merasa harus menanggung beban yang makin berat.

Waktu terus mengalir di sekelilingku. Sementara tubuhku makin malas untuk berkerja, otakkku semakin giat menjelajah, ke segala relung persoalan tetek bengek yang tidak penting. Kadang aku merasa menyesal kenapa aku harus tumbuh. Aku menyumpahi Enstein, kenapa menyadarkan manusia bahwa waktu itu ada.

Sementara manusia semakin tidak jelas, mau menuju kemana dalam hidup ini. Bahkan aku merasa sudah mulai terjebak dengan angan-angan semua orang. Hidup harus banyak duit. Karena nanti, aku sangat ingin membuat ibuku merasakan bagaimana menjadi seorang hajjah. Kenapa harus diciptakan duit. Kenapa bukan daun saja, kan mudah didapat, tinggal petik. Tapi kenapa, bagi sebagian orang, duit itu seperti daun, tinggal petik. Sementara aku harus sekolah tinggi-tinggi agar dapat duit.

Setan!!!, kog’ aku buang-buang tenaga memikirkan sesuatu yang seharusnya dikerjakan. Sementara aku harus menghemat tenaga, karena besok, makan dua kali sehari saja sudah merupakan kemewahan yang bisa kudapat.

Biaya kuliah terasa semakin berat saja. Kadang aku berfikir kenapa mereka yang harus dapat beasiswa. Kenapa beasiswa diberikan pada mahasiswa yang pandai saja, kenapa bukan kepada yang tidak mampu seperti aku ini. Orang kog mikirnya aneh? Mana ada orang miskin bisa pintar, kalau makan tiap hari cuma mengharapkan lebihan jualan makanan, mana bisa orang miskin pintar kalau kesempatan yang seharusnya digunakan untuk membaca, dipakai untuk menjadi kuli pelabuhan. Mana bisa orang miskin pintar, kalau kesempatan membaca digunakan untuk bercumbu di dalam kamar remang-remang busuk ini sama nyamuk dan kutu busuk, di atas kasur yang mulai keras ini.

Oooh...otak berhentilah!!! Aku mengumpat. Tunggu, persoalan belum selesai, dia menjawab. Persoalan itu diselesaikan dengan bekerja, dan aku perlu untuk bekerja besok agar kamu bisa tetap hidup, aku menjawab. Tidak juga. Otak memang nakal, persoalan harus dipikirkan juga solusinya. Kalau begitu aku membaca saja. Silakan! Tapi kemudian, dia malah sepertinya tidak mau mendukung aku untuk membaca.

Kembali Aku menerawang. Menatapi laba-laba, yang ikut numpang bersarang dikamarku. Ah.....kalau aku nanti dilahirkan kembali, rasanya aku ingin menjadi laba-laba saja. Sepertinya hidup lebih mudah baginya. Ia tidak dikaruniai otak sebesar punyaku. Sehingga hanya cukup untuk memerintahkan ke enam kakinya bergerak mencari makan, bila perutnya memberi sinyal bahwa ia lapar. Hei.....! dia kan numpang dikamarKu. Kenapa tidak kutarik sewa saja. Kan lumayan buat bayar biaya kuliah. Tapi dia harus membayar pakai apa. Coba dia diberi keahlian, untuk menyulam lembaran-lembaran uang. Ah.... enak kali ya?

Asam didalam lambungku semakin kuat menggigit dinding ususku. Ah kenapa harus ada perut, kenapa tuhan menciptakan mahluk Nya dengan perut. Coba kalau tidak ada perut, kan mungkin manusia tidak perlu makan, hingga Shunzu tidak perlu menciptakan seni perang, tidak perlu ada arsitek, tidak perlu ada otak, tidak perlu ada Ak......!!?. Descartes sialan, kenapa juga orang harus berfikir untuk menjadi ada. Kenapa tidak cukup hanya dengan menjadi “ada” saja. Kenapa harus ada “tiada”. Kenapa juga kita harus meng ada, untuk menjadi ada. Apakah dengan begitu manusia semakin menjadi beradab?. Tidak ( dengan sepuluh tanda seru ), supaya kamu tau Descartes, orang hanya akan menjadi beradab kalau dia sudah punya banyak duit. Karena, supaya kamu tau Descartes, bahkan orang mati saja sekarang perlu duit, orang mati saja masih harus bayar pajak kuburnya, supaya tidak dibongkar. Adab mana yang mengatakan orang mati boleh di utak-atik, supaya kamu tau Descartes, namanya adab duit, mau dapat adab? Bayar dulu.

Seandainya nabi Muhammad masih hidup. Aku mau datang padanya, mau minta untuk menyampaikan pesanku pada tuhan, beliau kan kekasih Allah. Eh........., bukannya tuhan itu Maha Mendengar, ngga perlu nabi dong untuk nyampaikan pesan. “ Tidak akan dirubah nasib sewatu kaum kalau dia tidak mau merubahnya “, sebenarnya nasib sama ngga sih dengan takdir, atau dengan kadir. Sebab ibuku sering bilang, “ yah.... itu sudah takdir nak “, “yah..... itu mungkin nasib kita nak”, “ oh itu kadir, tetangga sebelah nak, orangnya memang jorok”. Kayaknya kog mirip ya nasib sama takdir. “ Bu....., kadir bisa dirubah ngga? ”.

Aku bangkit, merogoh saku jeans bututku yang tergantung pada sebilah paku berkarat, di dinding kamarku. Mengambil sebatang rokok kretek ketengan, kubeli tadi sore di warung minah di seberang jendela bilikku. Suara ketawa pemuda-pemuda kampung beserta bau pesing, lamat-lamat terbawa angin, menyusup di celah dinding bilik yang lapuk dimakan usia. Kehembuskan asapnya kuat-kuat, dengan harapan masalahku bisa terbawa bersamanya. Kurebahkan lagi badanku, kuletakkan rokok di bibirku tanpa mengisapnya. Bersama liukan asap diudara, kembali anganku menari. Kucabut colokan di atas kepalaku, mematikan lampu listrik di ujung dipanku, hasil numpang di tetangga. Kami hanya boleh memakai neon sepuluh watt di ruang depan, yang hanya dipakai kalau perlu. Dan lima watt, masing masing di dapur, bilik ibuku, bilikku, yang juga hanya dipakai kalau perlu.

Kalau begini aku jadi ingat Shinta. Shinta dengan “ h “, sehingga harus di bunyikan dengan mendesis. Temanku satu kelas di kampus. Wew, berani sekali aku menganggap dia teman, dia bahkan mungkin tidak sadar bahwa aku hidup. Aku hanya berani mencuri pandang, jika dia sedang memalingkan wajahnya ke arah lain. Hingga kadang kupikir, selama ini aku hanya bisa melihat sebagian dari wajahnya. Sementara dia duduk pada bagian tengah paling depan, aku memilih duduk di pojok belakang. Memandang keluar jendela, mengepulkan rokok ketenganku sendirian, sementara orang lain sibuk bergaul.

Kilasan senyum yang biasanya aku tunggu, akan muncul bersama kibasan rambut ekor kuda, pada garis diagonal bangku kami. Merapikan bukunya, memasukan kedalam tas, menyentuh jam tangan mahal ditangan kirinya. Kemudian berdiri sambil meletakkan tas dibahunya. Melangkah anggun keluar ruangan, dengan tubuh setinggi dan sebagus itu, aku yakin, dia pasti hebat kalau jadi model pakaian dalam perempuan.

Aku tidak punya teman disini, dan memang aku tidak ingin. Teman-temanku di pelabuhan, di depan gang, dan minah, juga pa Ari, penjaga perpustakaan pusat. Aku berusaha menghilang dari pandangan mahluk-mahluk sok modern ini. Mereka bicara Pop, dan meremehkan Dangdut, mereka bicara Holywood, tapi tidak ngerti Ketoprak, mereka bicara Punk, tapi tidak tau gerakan Samin. Juga pada Shinta, aku ingin menghilang, aku suka dia, tapi aku takut. Karena bukan cuma nasibku yang buruk, bahkan rupaku juga jelek.

Akhirnya aku bosan juga. kubuka pintu kamar dan duduk di ruang tengah yang juga sekaligus ruang kerja ibuku. Duduk diam. Memandangi ibuku yang sedang membungkus nasi dengan lembaran-lembaran koran. Dia semakin tua, kerutan wajahnya semakin tegas, didera dengan sadis oleh waktu. Kalau aku ingin membantu, biasanya dia tidak akan mengijinkanku. Orang yang hemat suara. Aku tidak suka itu. Namun tanpa kusadari, aku pun melakukan hal yang sama pada semua orang.

“ Man..., sebentar lagi azan”.

“ Iya bu “

Aku beranjak ke bilik, mengganti kaos oblongku dengan baju koko warisan ayahku, menyambar sarung dan kopiah. Lalu pamit pada ibuku, menuju langgar di depan gang. Memanggil orang untuk sholat. Sekalian numpang mandi ketika hari menjelang siang.

Tidak ada komentar: