Hari ini, dibawah hujan gerimis, di emperan sebuah rumah, aku bertemu seekor kecoak, sungguh aku takjub, ia menyapaku, sungguh ia menyapaku.
“Hai… apa kabar?” katanya seolah mengenalku.
“Baik ….” Jawabku antara bingung dan takjub dan berusaha mengingat apakah aku mengenalnya.
“Aku tidak.” Katanya lagi, padahal aku tidak bertanya.
“Kenapa?” sahutku kemudian, dahiku kurasakan berkerut.
“Kau sungguh ingin tahu? Ia balik bertanya, seolah akulah yang sangat ingin tahu.
“Mmmmm…sebenarnya sih tidak” jawabku. “Tapi kalau kau ingin bercerita aku punya banyak waktu untuk mendengar.”
“Kau tahu….” Matanya menerawang. “Negara ini sedang dijajah.” nah lu apa lagi ini.
“hmmm…. Lalu?” sebenarnya aku tidak tau bahkan tidak mengerti dia bicara apa.
“Yah.. itu membuat kehidupanku jadi susah…? Katanya.
“Tunggu….” Aku menyerah. “Sebelum aku makin bingung, kau katakan dulu apa maksudmu dengan dijajah, yang kulihat semuanya baik-baik saja.”
“Kau kurang membaca dan menonton berita agaknya, temanku…” ia memandang bijak padaku, seolah kasihan.
“Kau tahu negara ini sudah menggadaikan segalanya pada uang, yang kumaksud segalanya adalah, bahkan moral dan jati diri.” Dengan sebuah tarikan napas panjang ia melanjutkan. “Akibatnya adalah seperti ini, aku susah makan.”
“Kalaupun iya.. “ Ini membuatku makin bingung. “Apa hubungannya dengan kamu.”
“Harga-harga mahal, pengangguran, dan lain sebagainya, membuat orang-orang semakin kurang gizi.” Jawabnya.
“Kau tahu…, aku memakan apa saja remah-remah dari orang-orang itu, bahkan kulit mati yang terkelupas dari tubuh mereka adalah makanan lezat bagiku, sementara jika segalanya mahal, remah-remah pun tak ada lagi, tubuh berhenti tumbuh, hingga tak ada lagi kulit mati yang terkelupas.” Katanya
Sebelum aku sempat untuk membuka mulut, ia berkata lagi. “Kau lihat sekarang banjir dimana-mana, begitu banyak saudaraku yang mati terendam karena tidak bisa berenang, kalau hutan makin gundul, itulah akibatnya.”
“Kalau banjir aku tau…” kataku.
“Nah….” Ia memotongku dengan cepat. “Kau harus tahu, itu semua membawa penderitaan bagi kami bangsa kecoak.”
“Kalian…” ia benar-benar mendominasi pembicaraan. “tidakkah bisa memahami, agar kita semua bisa nyaman dan damai, maka alam ini haruslah seimbang, kau tahu manusia terlalu mendominasi dan merasa berkuasa. Tidakkah mereka sadar bahwa kami juga mahluk tuhan.”
Sekarang pembicaraan ini mulai terasa seperti saat sang raja berkhotbah.
“Harusnya mereka juga tahu, kami ini sekutu mereka yang paling setia, yang membantu membersihkan rumah mereka, dan juga kehidupan mereka.” Ia makin menjadi. “Tampaknya bangsa kecoak harus melakukan lompatan evolusi, seperti manusia yang dulu sekali adalah ikan itu, kemudian menjadi penguasa dunia, agar mengatur dunia ini dengan segala pengetahuan yang murni berkah tuhan.” Matanya menatap jauh kebatas cakrawala yang mulai jingga.
“Aku memandang makin takjub padanya, luar biasa, kepala sekecil itu ternyata mempunyai otak yang begitu besar.
Tapi tiba-tiba saja perutku terasa lapar, mungkin karena dingin, dan kecoak ini lumayan gemuk juga, padahal yang dia omongkan dari tadi adalah soal kelaparan dan penderitaan.
“Ahh… tidak apa-apa sengak sedikit, daripada lapar.” Aku mulai kalap.
Dan hupp… dengan satu juluran lidah yang amat lihai dariku, kecoak itu pindah kedalam mulutku, kemudian perut.
“Hmm… lumayan juga.” Batinku. “Sekarang saatnya ke kolam dan memanggil para betina.”
“kroook, krook, kok kok kok…. Kok kok kok…sejuta kali !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar