Minggu, 26 Juli 2009

~~NAMAKU INA~~

Hei ! temanku yang baik, datang.... dan duduklah disini, aku ingin berbagi cerita denganmu. Aku juga ingin sedikit bicara padamu tentang hatiku, atau apa saja yang ingin kau tau, itupun kalau kau mau tahu. Duduklah, ya..duduklah. Apakah kau keberatan jika aku menawarkan sebatang rokok sembari kita berbincang? Baiklah.........,untuk menghalau ke kekakuan ini biarlah aku menceritakan tentang diriku.

Aku, orang yang hidup dalam bayangan, aku suka hidup dalam bayangan. Apalagi ketika malam telah datang, sebuah bayangan yang sempurna dengan kegelapan yang sempurna pula, Aku akan bersorak kegirangan, Aku merasa aman berada dalam bayangan, perasaanku menjadi nyaman dan sendu, seperti ketika kau memeluk kekasihmu. Kau tidak punya kekasih! Aah.....aku rasa tidak mungkin orang seperti kau tidak punya kekasih, tapi..........maaf kalau aku meragukanmu. Carilah, nanti kau akan mengerti perasaan yang ku maksud. Kau tahu temanku, kuanggap saja kau temanku, ketika matahari telah terbit Aku akan selalu berusaha berada dalam bayangan, bayangan apapun yang bisa kutemukan. Berlindung pada sesuatu yang bahkan kadang tidak ia sadari memilikinya, aku hanya meminta yang bahkan dia tidak akan merasa kehilangan.

Aku, tidak mampu memberi bayangan, karena aku bahkan tidak yakin kalau aku ada, ditambah lagi, logis saja bagaimana mungkin sesuatu yang ada dalam bayangan memberikan bayangan. Aku bahkan tidak yakin apakan entitasku ada dalam mayapada ini. Kalaupu aku ada mungkin bentukku transparant, karena aku bahkan takut untuk memberi warna hidupku, itupun kalau aku bisa disebut hidup.

Ahh....ya! aku lupa memperkenalkan diriku. Aku, Ina, begitulah orang menyebutku, sebagaimana aku menyebut namaku dalam kehampaan. Aku, seorang wanita yang terpenjara didalam raga maskulin seorang laki-laki. Jiwa dan ragaku saling membenci, mereka saling menyesali kebersatuannya, walapun mereka terus hidup bersama untuk mencari kesempurnaan. Kadang kudengar ragaku mencaci, kenapa ia diberi jiwa seperti jiwaku, ia sangat ingin jiwaku pergi, tapi tidak bisa. Begitupun dengan jiwaku, ia memaki ragaku dengan segala kata kotor yang ada dalam dunia ini, dan menyesali kenapa raga memenjarakannya, yang ada hanya penyesalan dan penderitaan yang harus tertanggung. Jiwaku ingin berpisah dari ragaku, tapi tidak bisa! Karena kami takut mati, itupun kalau aku benar hidup, karena aku tidak merasa hidup dengan pertengkaran mereka.

Ah..ya, Aku ingin kembali bercerita tentang kecintaanku pada bayangan. Pernah dulu, dulu sekali, sebelum aku hidup, aku berlindung pada sebuah bayangan, dia sebenarnya kecil saja tapi karena posisi cahaya yang tepat, dia menghasilkan bayangan yang besar, 350 tahun aku menghamba padanya, dia memerasku, mengambil semua yang kumiliki, yang tidak kusadari kumiliki, menghinaku dengan segala kehinaan yang ada didunia ini, sampai akhirnya hanya hutang yang ia tinggalkan setelah ia pergi. Kemudian cahaya lain terbit dari ufuk timur, aku berlari dan mencari perlindungan yang baru. Dalam beberapa kesempatan aku berusaha menatap sendiri matahariku, tapi tidak! aku tidak bisa! karena raga jantanku tidak bisa memahami jiwa wanitaku, akhirnya aku kembali mencari bayangan lain, lari dari matahari yang kutakuti.

Aku bukan banci, aku tidak tahu apa arti kata banci, karena dalam kitab suciku tidak kutemukan mahluk bernama Banci, Aku hanya raga laki-laki dan jiwa wanita, aku hanya itu. “Itu” yang kusadari bersama ketika kata orang aku ini hidup, karena aku tidak merasa hidup dengan pertengkaran jiwa dan ragaku. Apa artinya hidup, jika hanya menunggu mati, moksa, pindah alam, bertemu roh suci, atau apalah! aku ingin hidup, hanya hidup! aaah....? apa itu tadi? Sepertinya jiwaku dan ragaku bertengkar lagi. Aku juga tidak tau apa sebenarnya yang mereka inginkan. Mengapa mereka harus menjadi dua entitas yang berbeda, mereka kan berada dalam satu tubuh, tubuhku!! Ooh ya..ampuun! Hentikan!!! sekarang akupun tampaknya ikut dalam pertengkaran mereka, ya....ampuuun? Inikah hidup?

Maaf, aku jadi melibatkanmu dalam hidupku. Padahal aku hanya ingin bercerita tentang kecintaanku pada bayangan. Kau tau...?, sekarang ini, ketika aku duduk bersamamu sambil menceritakan kecintaanku pada bayangan, kita sebenarnya sedang duduk dalam bayangan, bayangan yang sempurna, tidak terlihat sedikitpun cacat padanya, bahkan setitik cahaya. Kau tau...., aku tidak ingin kau merusaknya, aku hanya ingin kau mendengarkan, dan aku juga tidak perduli apakah kau juga akan bisa mengenali wajahku, karena aku hanya ingin kau mendengarkan, hanya untuk membuat aku merasa lebih nyaman menikmati bayangan ini, dan kau harus tahu bahwa ini adalah bayangan yang sempurna, karena dia ada bahkan ketika bumi sudah beranjak siang.

Kau mungkin menyebutku gila, ketika aku menceritakan hidupku sebelum aku hidup. Tapi tidak, karena bagiku, didalam kitab suciku yang kutulis sendiri, aku sudah ada dibumi ini sejak pertama kali ruh bumi ini ditiupkan. Kita mungkin berbeda, ya...kita memang berbeda, tepi cobalah melihat dari sudut pandangku, karena yang dianggap banci itu aku, bukan kau.

Aah...temanku, tampaknya kau sudah mengantuk mendengar ceritaku, sudahlah jujurlah biar kita akhiri saja. Ambilah ini sebatang rokok lagi sebagai tanda pertemanan kita, hisaplah nanti saat kita sudah berpisah. Aku berharap kau bisa mengenangku, setidaknya kaulah orang yang mau mendengarkan ceritaku, dari sekian banyak kehidupan di mayapada ini. Aku ingin dalam ketidakpastianku ada orang yang tau bahwa aku ada. Terimakasih temanku, aku ingin beranjak mengikuti bayangan, hei...sahabatku sebelum pergi ingatlah bayangan itu memberimu teduh dan membuatmu nyaman, tapi ingatlah, sekali lagi ingatlah aku tidak mendapat apapun darinya, dan.... mmmm..... yah... mungkin.......... aku memang gila.

Tidak ada komentar: