Syawal kaget ketika aku tiba-tiba tertawa terbahak setelah Ia belok kiri. Aku merasa sangat lucu dengan plang di atas jalan yang kami lewati. Belok kanan Amsterdam, London, Paris. Belok kiri Tanggul rejo . “ Seperti negeri ini Wal, paradoks ”
Ini kisah ketika aku mengadakan perjalanan dari Marabahan ke Bontang, Kalimantan Timur, dengan Joly Jumper, motor Honda Astrea Grand tahun ’97, yang namanya mencaplok dari motor sejenis milik temanku Daud, terinspirasi dari kuda milik penembak wild wild west yang lebih cepat dari bayangan, Lucky Luck.
Dengan modal duit seadanya plus sedikit kenekatan, jalan sepanjang 700 km menunggu. Tidak ada tujuan khusus, just for fun.
Alkisah, semua ini diawali dari kebosanan karena masa liburan mengajar selama bulan Ramadhan 1430 H, yang artinya sebulan penuh, lebih malah. Setelah seminggu libur, tiba-tiba saja meledak keinginan di kepalaku untuk pergi jalan-jalan, daripada mati bosan. Ke Bontang mendatangi Robby, karibku di Marabahan yang kini tinggal di sana. Yang menunda keberangkatanku, hingga terasa makin panjang hari-hari, adalah soal uang, gajian masih empat hari lagi mangg........!!
Jadilah, tepat sehari setelah gajian, sesudah ganti oli dan menyervis Joly, lonely journey is began. Pagi jam tujuh, berangkat dengan ransel terikat di boncengan, dan sebuah senapang angin rusak, titipan Robby.
Tidak ada yang spektakuler dari kisah perjalanan ini. Semuanya berjalan lancar. Melewati jalan tanah yang baru dibangun dari Marabahan langsung memotong ke Rantau, hingga bisa menyingkat waktu sampai tiga jam, jika melewati Banjarmasin. Istirahat sembahyang zohor di kota Rantau.
Jam empat sore aku sudah memasuki perbatasan Kalsel-Kaltim. Setelah Joly gemetaran mendaki Gunung Rambutan, berbuka puasa di mesjid Desa Long Lait. Jam sembilan malam, di penyeberangan Fery Panajam, menelpon Syawal. Memasuki kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kurang lebih jam sepuluh malam aku sudah di rumah Syawal, karibku di Mapala, semasa kuliah. Spidometer Joly menunjukkan 500 km sudah terlalui.
Mendengar rencanaku langsung melanjutkan ke Bontang esok pagi, malam itu Syawal mengajak aku jalan-jalan, mengenalkan Balikpapan. Dimulai dari sebuah taman di pusat kota. Kami duduk di cafe tenda menghabiskan dua cangkir capuccino instan. Membakar berbatang-batang rokok. Sambil mengomentari gadis-gadis dengan model termutakhir yang sedang nongkrong bersama gengnya, ribut membicarakan entah apa.
Kata Syawal, mereka ada disini sih karena diskotik lagi tutup, selama bulan puasa. Katanya lagi, mungkin ada tuh yang bispak (bisa pakai)..., ajippp bener dah...., mau....?
Lalu kami berputar kota, kaya walaupun kecil, kalo dibanding Banjarmasin. Dengan mall, hotel, dan apartemen yang sewanya mencapai ratusan juta. Maklum, kota minyak.
Memasuki sebuah komplek pasar, adalah memasuki nuansa Eropah abad pertengahan. Dimulai dari gerbang, kemudian bangunan toko, taman dan jalan yang didesain dengan nuansa eropah, macam kastil pangeran di film kartun Rafunzel.
Pun nama blok yang digunakan, blok paris, amsterdam, london, dst. Pertanyaanku, mana yang nuansa kaltim-nya, dijawab syawal dengan singkat, “ kadada. ” weleh...... sambil terkagum-kagum karena mereka mampu membangun ini.
Di ujung Blok, Syawal kaget ketika aku tiba-tiba tertawa terbahak setelah Ia belok kiri. Aku merasa sangat lucu dengan plang di atas jalan yang kami lewati. Belok kanan Amsterdam, London, Paris, dst. Belok kiri Tanggul rejo . “ Seperti negeri ini Wal, paradoks. ”
Aku langsung ingat ketika zaman kuliah, waktu KBU diundang oleh BP7 di aula walikota Banjarmasin. Aku datang mewakili bersama Barak. Dengan sandal jepit beda warna, jeans butut potongan jadul yang sudah dua minggu tidak dicuci, baju hem outdoor yang nasipnya sama, dan rambut keriting gondrong yang tidak jelas menganut gaya apa.
Isinya ternyata ceramah tentang Pancasila, sebagai dasar yang paling tepat untuk negeri ini. Karena pancasila sudah mencakup semuanya. Baik moral, hukum dan agama, tinggal mengamalkan saja.
Tokoh masyarakat yang lain, waktu itu ada banyak ketua RT, tokoh agama, dan beberapa tetua, menanggapi dengan pengamalan yang salah lah, kurang mengerti agama lah sehingga bangsa ini carut marut dan diturunkan azab, kebetulan waktu itu setelah kejadian tsunami Aceh. Sampai seorang kawan dari BEM Hukum menanggapi dengan Pancasila yang diplesetkan. Mendengar itu, kepala BP7, saya lupa namanya, nampak marah ketika menanggapi.
Entah kebetulan atau tidak, saya menanggapi pembicaraan itu sebagai penutup. Saya katakan bahwa agama atau idiologi apapun untuk bangsa ini bukan soal, asalkan pemimpinnya bisa menunjukkan empati pada rakyatnya. Soal pancasila yang diplesetkan, hanya bentuk pelampiasan kekecewaan atas keadaan yang saling bertolak belakang antara pemimpin dan rakyat, jadi bapak tidak perlu marah soal itu.
Ketika rakyat di suruh hemat energi, mesin mobil pa atasan tidak pernah mati kalo menunggu bos, takut mobilnya jadi panas kalo dimatikan mesinnya, karena AC ngga bisa nyala. Dan masih banyak contoh lain yang menggambarkan itu. Bla bla bla masih banyak lagi saya bicara, lupa detilnya.....
Setelah selesai, kepala BP7 itu langsung mendatangi saya yang duduk di paling sudut ruangan, menyalami sampai tangan saya terasa sakit. Memandang saya dengan tajam, entah dia bicara apa, lupa. Saya sampai merasa tubuh saya mengkeret, sambil berdoa, mudahan saya jangan jadi korban penculikan, wkwkwkwkwkw, gayyyaaaa....!!!
Kenapa kamu ketawa, tanya syawal, bukankah itu harusnya menyedihkan. Entahlah brow..., mungkin otakku mengandung penyakit apatis dan sinis yang mulai akut.
Begitulah pikiranku waktu itu, mungkin bangsa ini sedang berkembang melompati satu tahap langsung menuju keruntuhan, bukan kemajuan, seperti seharusnya. Di tengah kota yang seharusnya keliatan jiwa kaltimnya, malah berasa sedang jalan-jalan di Eropah, walaupun rasanya asyem. Budaya asli berada di dimpang kiri yang jarang dipilih. ( Syawal dan semua orang Balikpapan kalo kebetulan baca, jangan marah ya... kota kalian hebat kog, ini hanya pikiran orang kurang kerjaan aja... hehe.... )
Itu sudah semuanya, besoknya, setelah berangkat jam sembilan siang, melewati Samarinda tengah hari, jam tiga sore aku memasuki kota Bontang. Setelah membakar 12 liter bensin, here I am, in Bontang. Kotanya PT Badak Ngl dan Pupuk Kaltim. Spidometer menunjukkan 700 km sekarang.
Joly Jumper memang luar biasa. Walau cuma 100 cc, bolak balik Marabahan-Bontang, 1400 km, dengan 24 liter bensin, melewati jalan turun naik dan berliku tanpa rewel sedikitpun. Cheerssssssss.......!
Minggu, 29 November 2009
Belok kanan Amsterdam, kiri Tanggul Rejo
Minggu, 26 Juli 2009
~~AZAN~~
Sudah jam tiga pagi. Kurebahkan badanku pada gumpalan kapuk yang sudah mulai keras ini, bersamaan dengan hembusan napas. Mataku menerawang langit-langit kamar yang mulai menghitam, tertutup asap jelatang, kiriman dari dapur ibuku. Suara mendesis dari penggorengan, melahap kekuatanku menahan rasa lapar. Besok, nampaknya ibuku akan berjualan lagi.
Kuambil Karl Marx dari meja di samping dipan. Membuka halamannya tanpa tujuan, kemudian kulemparkan lagi ke samping badanku, setelah membaca beberapa baris, yang membuat otakku menjadi lemas. Aku menerawang. Aku sudah terpisah ratusan tahun dari Karl Marx, nabi Muhammad, dan puluhan tahun dari Gandhi. Masih saja ibuku harus menggoreng ikan peda dari pasar amis di ujung jalan, untuk mencari sedikit tambahan, demi menyangga otot ini, sekedar agar bisa berjalan esok pagi. Sementara persoalan semakin hari semakin menumpuk. Semakin bertambah usiaku semakin aku merasa harus menanggung beban yang makin berat.
Waktu terus mengalir di sekelilingku. Sementara tubuhku makin malas untuk berkerja, otakkku semakin giat menjelajah, ke segala relung persoalan tetek bengek yang tidak penting. Kadang aku merasa menyesal kenapa aku harus tumbuh. Aku menyumpahi Enstein, kenapa menyadarkan manusia bahwa waktu itu ada.
Sementara manusia semakin tidak jelas, mau menuju kemana dalam hidup ini. Bahkan aku merasa sudah mulai terjebak dengan angan-angan semua orang. Hidup harus banyak duit. Karena nanti, aku sangat ingin membuat ibuku merasakan bagaimana menjadi seorang hajjah. Kenapa harus diciptakan duit. Kenapa bukan daun saja, kan mudah didapat, tinggal petik. Tapi kenapa, bagi sebagian orang, duit itu seperti daun, tinggal petik. Sementara aku harus sekolah tinggi-tinggi agar dapat duit.
Setan!!!, kog’ aku buang-buang tenaga memikirkan sesuatu yang seharusnya dikerjakan. Sementara aku harus menghemat tenaga, karena besok, makan dua kali sehari saja sudah merupakan kemewahan yang bisa kudapat.
Biaya kuliah terasa semakin berat saja. Kadang aku berfikir kenapa mereka yang harus dapat beasiswa. Kenapa beasiswa diberikan pada mahasiswa yang pandai saja, kenapa bukan kepada yang tidak mampu seperti aku ini. Orang kog mikirnya aneh? Mana ada orang miskin bisa pintar, kalau makan tiap hari cuma mengharapkan lebihan jualan makanan, mana bisa orang miskin pintar kalau kesempatan yang seharusnya digunakan untuk membaca, dipakai untuk menjadi kuli pelabuhan. Mana bisa orang miskin pintar, kalau kesempatan membaca digunakan untuk bercumbu di dalam kamar remang-remang busuk ini sama nyamuk dan kutu busuk, di atas kasur yang mulai keras ini.
Oooh...otak berhentilah!!! Aku mengumpat. Tunggu, persoalan belum selesai, dia menjawab. Persoalan itu diselesaikan dengan bekerja, dan aku perlu untuk bekerja besok agar kamu bisa tetap hidup, aku menjawab. Tidak juga. Otak memang nakal, persoalan harus dipikirkan juga solusinya. Kalau begitu aku membaca saja. Silakan! Tapi kemudian, dia malah sepertinya tidak mau mendukung aku untuk membaca.
Kembali Aku menerawang. Menatapi laba-laba, yang ikut numpang bersarang dikamarku. Ah.....kalau aku nanti dilahirkan kembali, rasanya aku ingin menjadi laba-laba saja. Sepertinya hidup lebih mudah baginya. Ia tidak dikaruniai otak sebesar punyaku. Sehingga hanya cukup untuk memerintahkan ke enam kakinya bergerak mencari makan, bila perutnya memberi sinyal bahwa ia lapar. Hei.....! dia kan numpang dikamarKu. Kenapa tidak kutarik sewa saja. Kan lumayan buat bayar biaya kuliah. Tapi dia harus membayar pakai apa. Coba dia diberi keahlian, untuk menyulam lembaran-lembaran uang. Ah.... enak kali ya?
Asam didalam lambungku semakin kuat menggigit dinding ususku. Ah kenapa harus ada perut, kenapa tuhan menciptakan mahluk Nya dengan perut. Coba kalau tidak ada perut, kan mungkin manusia tidak perlu makan, hingga Shunzu tidak perlu menciptakan seni perang, tidak perlu ada arsitek, tidak perlu ada otak, tidak perlu ada Ak......!!?. Descartes sialan, kenapa juga orang harus berfikir untuk menjadi ada. Kenapa tidak cukup hanya dengan menjadi “ada” saja. Kenapa harus ada “tiada”. Kenapa juga kita harus meng ada, untuk menjadi ada. Apakah dengan begitu manusia semakin menjadi beradab?. Tidak ( dengan sepuluh tanda seru ), supaya kamu tau Descartes, orang hanya akan menjadi beradab kalau dia sudah punya banyak duit. Karena, supaya kamu tau Descartes, bahkan orang mati saja sekarang perlu duit, orang mati saja masih harus bayar pajak kuburnya, supaya tidak dibongkar. Adab mana yang mengatakan orang mati boleh di utak-atik, supaya kamu tau Descartes, namanya adab duit, mau dapat adab? Bayar dulu.
Seandainya nabi Muhammad masih hidup. Aku mau datang padanya, mau minta untuk menyampaikan pesanku pada tuhan, beliau kan kekasih Allah. Eh........., bukannya tuhan itu Maha Mendengar, ngga perlu nabi dong untuk nyampaikan pesan. “ Tidak akan dirubah nasib sewatu kaum kalau dia tidak mau merubahnya “, sebenarnya nasib sama ngga sih dengan takdir, atau dengan kadir. Sebab ibuku sering bilang, “ yah.... itu sudah takdir nak “, “yah..... itu mungkin nasib kita nak”, “ oh itu kadir, tetangga sebelah nak, orangnya memang jorok”. Kayaknya kog mirip ya nasib sama takdir. “ Bu....., kadir bisa dirubah ngga? ”.
Aku bangkit, merogoh saku jeans bututku yang tergantung pada sebilah paku berkarat, di dinding kamarku. Mengambil sebatang rokok kretek ketengan, kubeli tadi sore di warung minah di seberang jendela bilikku. Suara ketawa pemuda-pemuda kampung beserta bau pesing, lamat-lamat terbawa angin, menyusup di celah dinding bilik yang lapuk dimakan usia. Kehembuskan asapnya kuat-kuat, dengan harapan masalahku bisa terbawa bersamanya. Kurebahkan lagi badanku, kuletakkan rokok di bibirku tanpa mengisapnya. Bersama liukan asap diudara, kembali anganku menari. Kucabut colokan di atas kepalaku, mematikan lampu listrik di ujung dipanku, hasil numpang di tetangga. Kami hanya boleh memakai neon sepuluh watt di ruang depan, yang hanya dipakai kalau perlu. Dan lima watt, masing masing di dapur, bilik ibuku, bilikku, yang juga hanya dipakai kalau perlu.
Kalau begini aku jadi ingat Shinta. Shinta dengan “ h “, sehingga harus di bunyikan dengan mendesis. Temanku satu kelas di kampus. Wew, berani sekali aku menganggap dia teman, dia bahkan mungkin tidak sadar bahwa aku hidup. Aku hanya berani mencuri pandang, jika dia sedang memalingkan wajahnya ke arah lain. Hingga kadang kupikir, selama ini aku hanya bisa melihat sebagian dari wajahnya. Sementara dia duduk pada bagian tengah paling depan, aku memilih duduk di pojok belakang. Memandang keluar jendela, mengepulkan rokok ketenganku sendirian, sementara orang lain sibuk bergaul.
Kilasan senyum yang biasanya aku tunggu, akan muncul bersama kibasan rambut ekor kuda, pada garis diagonal bangku kami. Merapikan bukunya, memasukan kedalam tas, menyentuh jam tangan mahal ditangan kirinya. Kemudian berdiri sambil meletakkan tas dibahunya. Melangkah anggun keluar ruangan, dengan tubuh setinggi dan sebagus itu, aku yakin, dia pasti hebat kalau jadi model pakaian dalam perempuan.
Aku tidak punya teman disini, dan memang aku tidak ingin. Teman-temanku di pelabuhan, di depan gang, dan minah, juga pa Ari, penjaga perpustakaan pusat. Aku berusaha menghilang dari pandangan mahluk-mahluk sok modern ini. Mereka bicara Pop, dan meremehkan Dangdut, mereka bicara Holywood, tapi tidak ngerti Ketoprak, mereka bicara Punk, tapi tidak tau gerakan Samin. Juga pada Shinta, aku ingin menghilang, aku suka dia, tapi aku takut. Karena bukan cuma nasibku yang buruk, bahkan rupaku juga jelek.
Akhirnya aku bosan juga. kubuka pintu kamar dan duduk di ruang tengah yang juga sekaligus ruang kerja ibuku. Duduk diam. Memandangi ibuku yang sedang membungkus nasi dengan lembaran-lembaran koran. Dia semakin tua, kerutan wajahnya semakin tegas, didera dengan sadis oleh waktu. Kalau aku ingin membantu, biasanya dia tidak akan mengijinkanku. Orang yang hemat suara. Aku tidak suka itu. Namun tanpa kusadari, aku pun melakukan hal yang sama pada semua orang.
“ Man..., sebentar lagi azan”.
“ Iya bu “
Aku beranjak ke bilik, mengganti kaos oblongku dengan baju koko warisan ayahku, menyambar sarung dan kopiah. Lalu pamit pada ibuku, menuju langgar di depan gang. Memanggil orang untuk sholat. Sekalian numpang mandi ketika hari menjelang siang.
~~NAMAKU INA~~
Hei ! temanku yang baik, datang.... dan duduklah disini, aku ingin berbagi cerita denganmu. Aku juga ingin sedikit bicara padamu tentang hatiku, atau apa saja yang ingin kau tau, itupun kalau kau mau tahu. Duduklah, ya..duduklah. Apakah kau keberatan jika aku menawarkan sebatang rokok sembari kita berbincang? Baiklah.........,untuk menghalau ke kekakuan ini biarlah aku menceritakan tentang diriku.
Aku, orang yang hidup dalam bayangan, aku suka hidup dalam bayangan. Apalagi ketika malam telah datang, sebuah bayangan yang sempurna dengan kegelapan yang sempurna pula, Aku akan bersorak kegirangan, Aku merasa aman berada dalam bayangan, perasaanku menjadi nyaman dan sendu, seperti ketika kau memeluk kekasihmu. Kau tidak punya kekasih! Aah.....aku rasa tidak mungkin orang seperti kau tidak punya kekasih, tapi..........maaf kalau aku meragukanmu. Carilah, nanti kau akan mengerti perasaan yang ku maksud. Kau tahu temanku, kuanggap saja kau temanku, ketika matahari telah terbit Aku akan selalu berusaha berada dalam bayangan, bayangan apapun yang bisa kutemukan. Berlindung pada sesuatu yang bahkan kadang tidak ia sadari memilikinya, aku hanya meminta yang bahkan dia tidak akan merasa kehilangan.
Aku, tidak mampu memberi bayangan, karena aku bahkan tidak yakin kalau aku ada, ditambah lagi, logis saja bagaimana mungkin sesuatu yang ada dalam bayangan memberikan bayangan. Aku bahkan tidak yakin apakan entitasku ada dalam mayapada ini. Kalaupu aku ada mungkin bentukku transparant, karena aku bahkan takut untuk memberi warna hidupku, itupun kalau aku bisa disebut hidup.
Ahh....ya! aku lupa memperkenalkan diriku. Aku, Ina, begitulah orang menyebutku, sebagaimana aku menyebut namaku dalam kehampaan. Aku, seorang wanita yang terpenjara didalam raga maskulin seorang laki-laki. Jiwa dan ragaku saling membenci, mereka saling menyesali kebersatuannya, walapun mereka terus hidup bersama untuk mencari kesempurnaan. Kadang kudengar ragaku mencaci, kenapa ia diberi jiwa seperti jiwaku, ia sangat ingin jiwaku pergi, tapi tidak bisa. Begitupun dengan jiwaku, ia memaki ragaku dengan segala kata kotor yang ada dalam dunia ini, dan menyesali kenapa raga memenjarakannya, yang ada hanya penyesalan dan penderitaan yang harus tertanggung. Jiwaku ingin berpisah dari ragaku, tapi tidak bisa! Karena kami takut mati, itupun kalau aku benar hidup, karena aku tidak merasa hidup dengan pertengkaran mereka.
Ah..ya, Aku ingin kembali bercerita tentang kecintaanku pada bayangan. Pernah dulu, dulu sekali, sebelum aku hidup, aku berlindung pada sebuah bayangan, dia sebenarnya kecil saja tapi karena posisi cahaya yang tepat, dia menghasilkan bayangan yang besar, 350 tahun aku menghamba padanya, dia memerasku, mengambil semua yang kumiliki, yang tidak kusadari kumiliki, menghinaku dengan segala kehinaan yang ada didunia ini, sampai akhirnya hanya hutang yang ia tinggalkan setelah ia pergi. Kemudian cahaya lain terbit dari ufuk timur, aku berlari dan mencari perlindungan yang baru. Dalam beberapa kesempatan aku berusaha menatap sendiri matahariku, tapi tidak! aku tidak bisa! karena raga jantanku tidak bisa memahami jiwa wanitaku, akhirnya aku kembali mencari bayangan lain, lari dari matahari yang kutakuti.
Aku bukan banci, aku tidak tahu apa arti kata banci, karena dalam kitab suciku tidak kutemukan mahluk bernama Banci, Aku hanya raga laki-laki dan jiwa wanita, aku hanya itu. “Itu” yang kusadari bersama ketika kata orang aku ini hidup, karena aku tidak merasa hidup dengan pertengkaran jiwa dan ragaku. Apa artinya hidup, jika hanya menunggu mati, moksa, pindah alam, bertemu roh suci, atau apalah! aku ingin hidup, hanya hidup! aaah....? apa itu tadi? Sepertinya jiwaku dan ragaku bertengkar lagi. Aku juga tidak tau apa sebenarnya yang mereka inginkan. Mengapa mereka harus menjadi dua entitas yang berbeda, mereka kan berada dalam satu tubuh, tubuhku!! Ooh ya..ampuun! Hentikan!!! sekarang akupun tampaknya ikut dalam pertengkaran mereka, ya....ampuuun? Inikah hidup?
Maaf, aku jadi melibatkanmu dalam hidupku. Padahal aku hanya ingin bercerita tentang kecintaanku pada bayangan. Kau tau...?, sekarang ini, ketika aku duduk bersamamu sambil menceritakan kecintaanku pada bayangan, kita sebenarnya sedang duduk dalam bayangan, bayangan yang sempurna, tidak terlihat sedikitpun cacat padanya, bahkan setitik cahaya. Kau tau...., aku tidak ingin kau merusaknya, aku hanya ingin kau mendengarkan, dan aku juga tidak perduli apakah kau juga akan bisa mengenali wajahku, karena aku hanya ingin kau mendengarkan, hanya untuk membuat aku merasa lebih nyaman menikmati bayangan ini, dan kau harus tahu bahwa ini adalah bayangan yang sempurna, karena dia ada bahkan ketika bumi sudah beranjak siang.
Kau mungkin menyebutku gila, ketika aku menceritakan hidupku sebelum aku hidup. Tapi tidak, karena bagiku, didalam kitab suciku yang kutulis sendiri, aku sudah ada dibumi ini sejak pertama kali ruh bumi ini ditiupkan. Kita mungkin berbeda, ya...kita memang berbeda, tepi cobalah melihat dari sudut pandangku, karena yang dianggap banci itu aku, bukan kau.
Aah...temanku, tampaknya kau sudah mengantuk mendengar ceritaku, sudahlah jujurlah biar kita akhiri saja. Ambilah ini sebatang rokok lagi sebagai tanda pertemanan kita, hisaplah nanti saat kita sudah berpisah. Aku berharap kau bisa mengenangku, setidaknya kaulah orang yang mau mendengarkan ceritaku, dari sekian banyak kehidupan di mayapada ini. Aku ingin dalam ketidakpastianku ada orang yang tau bahwa aku ada. Terimakasih temanku, aku ingin beranjak mengikuti bayangan, hei...sahabatku sebelum pergi ingatlah bayangan itu memberimu teduh dan membuatmu nyaman, tapi ingatlah, sekali lagi ingatlah aku tidak mendapat apapun darinya, dan.... mmmm..... yah... mungkin.......... aku memang gila.
~~ELEGI KALA GERIMIS~~
Hari ini, dibawah hujan gerimis, di emperan sebuah rumah, aku bertemu seekor kecoak, sungguh aku takjub, ia menyapaku, sungguh ia menyapaku.
“Hai… apa kabar?” katanya seolah mengenalku.
“Baik ….” Jawabku antara bingung dan takjub dan berusaha mengingat apakah aku mengenalnya.
“Aku tidak.” Katanya lagi, padahal aku tidak bertanya.
“Kenapa?” sahutku kemudian, dahiku kurasakan berkerut.
“Kau sungguh ingin tahu? Ia balik bertanya, seolah akulah yang sangat ingin tahu.
“Mmmmm…sebenarnya sih tidak” jawabku. “Tapi kalau kau ingin bercerita aku punya banyak waktu untuk mendengar.”
“Kau tahu….” Matanya menerawang. “Negara ini sedang dijajah.” nah lu apa lagi ini.
“hmmm…. Lalu?” sebenarnya aku tidak tau bahkan tidak mengerti dia bicara apa.
“Yah.. itu membuat kehidupanku jadi susah…? Katanya.
“Tunggu….” Aku menyerah. “Sebelum aku makin bingung, kau katakan dulu apa maksudmu dengan dijajah, yang kulihat semuanya baik-baik saja.”
“Kau kurang membaca dan menonton berita agaknya, temanku…” ia memandang bijak padaku, seolah kasihan.
“Kau tahu negara ini sudah menggadaikan segalanya pada uang, yang kumaksud segalanya adalah, bahkan moral dan jati diri.” Dengan sebuah tarikan napas panjang ia melanjutkan. “Akibatnya adalah seperti ini, aku susah makan.”
“Kalaupun iya.. “ Ini membuatku makin bingung. “Apa hubungannya dengan kamu.”
“Harga-harga mahal, pengangguran, dan lain sebagainya, membuat orang-orang semakin kurang gizi.” Jawabnya.
“Kau tahu…, aku memakan apa saja remah-remah dari orang-orang itu, bahkan kulit mati yang terkelupas dari tubuh mereka adalah makanan lezat bagiku, sementara jika segalanya mahal, remah-remah pun tak ada lagi, tubuh berhenti tumbuh, hingga tak ada lagi kulit mati yang terkelupas.” Katanya
Sebelum aku sempat untuk membuka mulut, ia berkata lagi. “Kau lihat sekarang banjir dimana-mana, begitu banyak saudaraku yang mati terendam karena tidak bisa berenang, kalau hutan makin gundul, itulah akibatnya.”
“Kalau banjir aku tau…” kataku.
“Nah….” Ia memotongku dengan cepat. “Kau harus tahu, itu semua membawa penderitaan bagi kami bangsa kecoak.”
“Kalian…” ia benar-benar mendominasi pembicaraan. “tidakkah bisa memahami, agar kita semua bisa nyaman dan damai, maka alam ini haruslah seimbang, kau tahu manusia terlalu mendominasi dan merasa berkuasa. Tidakkah mereka sadar bahwa kami juga mahluk tuhan.”
Sekarang pembicaraan ini mulai terasa seperti saat sang raja berkhotbah.
“Harusnya mereka juga tahu, kami ini sekutu mereka yang paling setia, yang membantu membersihkan rumah mereka, dan juga kehidupan mereka.” Ia makin menjadi. “Tampaknya bangsa kecoak harus melakukan lompatan evolusi, seperti manusia yang dulu sekali adalah ikan itu, kemudian menjadi penguasa dunia, agar mengatur dunia ini dengan segala pengetahuan yang murni berkah tuhan.” Matanya menatap jauh kebatas cakrawala yang mulai jingga.
“Aku memandang makin takjub padanya, luar biasa, kepala sekecil itu ternyata mempunyai otak yang begitu besar.
Tapi tiba-tiba saja perutku terasa lapar, mungkin karena dingin, dan kecoak ini lumayan gemuk juga, padahal yang dia omongkan dari tadi adalah soal kelaparan dan penderitaan.
“Ahh… tidak apa-apa sengak sedikit, daripada lapar.” Aku mulai kalap.
Dan hupp… dengan satu juluran lidah yang amat lihai dariku, kecoak itu pindah kedalam mulutku, kemudian perut.
“Hmm… lumayan juga.” Batinku. “Sekarang saatnya ke kolam dan memanggil para betina.”
“kroook, krook, kok kok kok…. Kok kok kok…sejuta kali !



